Salah satu karakter paling mendasar manusia pada masa kini adalah keberadaan semangat zaman (zeitgeist), yakni dorongan batin untuk terus beradaptasi dengan perubahan realitas agar tidak tertinggal, atau setidaknya mampu hidup secara selaras dengan sistem yang terus berkembang. Semangat tersebut mendorong manusia untuk meningkatkan keterampilan, memperluas jaringan, mengadopsi berbagai gagasan dari luar, maupun melakukan pembaruan terhadap kapasitas dirinya sendiri.
Pada dasarnya, semua upaya tersebut dilakukan demi menciptakan harmonisasi sehingga setiap unsur dapat menjalankan fungsi sesuai dengan porsinya masing-masing. Dalam perspektif yang lebih luas, semangat zaman merupakan salah satu energi yang memungkinkan manusia menjalankan mandatnya sebagai khalifah di muka bumi.
Namun, perkembangan tersebut tidak selalu berlangsung sebagaimana yang dibayangkan. Tidak sedikit manusia yang justru terjebak dalam berbagai bentuk kepalsuan yang mengatasnamakan semangat zaman. Citra dan persona dibangun sedemikian rupa agar tampak ideal di hadapan orang lain, meskipun sering kali tidak mencerminkan jati diri yang sebenarnya. Bahkan, tubuh dan identitas diri seakan diambil alih demi tujuan-tujuan semu yang hanya berorientasi pada penampilan dan pengakuan sosial.
Ironisnya, di tengah kemajuan peradaban, manusia masih kerap melakukan dehumanisasi terhadap sesamanya hanya karena perbedaan pilihan, lingkungan pergaulan, atau cara dalam mencapai tujuan. Seseorang dapat didiskreditkan hanya karena tidak mengikuti pola pikir kelompok tertentu. Mereka yang dianggap tidak “nurut” terhadap aturan tidak tertulis suatu lingkaran sosial kerap diposisikan sebagai pihak yang salah.
Fenomena semacam ini bukan sekadar kemunduran dalam kualitas interaksi sosial, melainkan menunjukkan cara berpikir yang sudah tidak lagi relevan dengan tuntutan zaman. Di tengah dunia yang semakin terbuka, sikap eksklusif dan tribalistik justru mencerminkan bentuk primitivisme baru yang seharusnya telah lama ditinggalkan.
Kita hidup pada era informasi, sebuah zaman ketika hampir tidak ada lagi fenomena yang benar-benar asing. Informasi hadir setiap saat dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di satu sisi, kita mengakui bahwa keterbukaan informasi merupakan anugerah bagi peradaban. Akan tetapi, di sisi lain, kita sering kali gagal menerima kenyataan bahwa orang lain juga memiliki sudut pandang yang berbeda.
Tidak jarang, kita sibuk membongkar apa yang dianggap sebagai kepalsuan pihak lain, padahal sumber kepalsuan itu mungkin justru berasal dari diri sendiri. Akibatnya, budaya playing victim berkembang, sementara kesalahan selalu dilemparkan kepada kelompok lain yang dianggap berbeda.
Masalah terbesar zaman ini sesungguhnya bukan terletak pada cepatnya perubahan, melainkan pada ketertinggalan cara berpikir manusia dalam menghadapi perubahan tersebut. Dunia telah bergerak secara integral, dinamis, dan kompleks, tetapi sebagian manusia masih terjebak dalam pola pikir yang primordial, kaku, dan statis. Realitas sudah menjadi semakin ambigu dan multidimensional, tetapi respons yang diberikan masih bersifat hitam-putih, tanpa ruang bagi nuansa dan kompleksitas.
Inilah yang oleh para ilmuwan sosial disebut sebagai epistemic lag, yaitu keadaan ketika perkembangan pengetahuan, kesadaran, dan cara berpikir manusia tertinggal dibandingkan dengan perubahan realitas yang berlangsung sangat cepat. Kesenjangan tersebut membuat manusia mengalami disorientasi, mudah terjebak dalam polarisasi, serta sulit membangun kehidupan bersama yang sehat.
Lebih jauh lagi, berbagai persoalan sosial yang kita hadapi sesungguhnya tidak lahir secara tiba-tiba. Sebagian besar merupakan konsekuensi dari kelalaian kolektif. Ketika ketidakadilan dibiarkan, kerusakan lingkungan diabaikan, penyimpangan dianggap biasa, dan kejahatan tidak lagi menimbulkan keprihatinan, pada saat itulah masyarakat secara tidak sadar sedang mempersiapkan krisis yang mereka ciptakan sendiri.
Sikap diam, acuh tak acuh, dan ketidakpedulian bukanlah posisi yang netral. Dalam banyak keadaan, semuanya dapat berubah menjadi bentuk pembiaran yang secara tidak langsung ikut melanggengkan kerusakan. Jika hal itu terjadi secara kolektif, maka sesungguhnya kita sedang mempertaruhkan amanah kemanusiaan yang melekat pada diri kita sebagai khalifah di muka bumi.
Dalam konteks ini, penting untuk menyadari bahwa niat yang baik tidak selalu menjamin lahirnya tindakan yang benar. Bisa jadi orientasi dan tujuan yang kita miliki sudah tepat, bahkan bernilai ibadah, tetapi cara kita mengekspresikan dan mengimplementasikannya justru melahirkan ketidakadilan. Sebaliknya, seseorang mungkin memiliki metode yang benar, tetapi niat dan orientasinya tidak dilandasi ketulusan yang memadai. Dengan demikian, kualitas manusia tidak hanya ditentukan oleh niat ataupun cara semata, melainkan oleh keselarasan antara keduanya.
Karena itu, epistemic lag merupakan persoalan yang harus terus dikejar dan diperkecil. Sulit membayangkan manusia dapat hidup secara saleh, stabil, dan kompatibel dengan realitas dunia apabila cara berpikirnya masih tertinggal jauh dari perkembangan zaman. Harapan bahwa “nanti akan ditemukan jalannya” tidak selalu berakhir pada kebaikan. Sebab, jalan yang ditemukan bisa saja merupakan jalan buntu, dan yang lebih berbahaya adalah ketika kebuntuan tersebut hanya disesali tanpa diiringi keberanian untuk memperbarui cara berpikir.
Pada akhirnya, manusia dapat terjebak dalam labirin kepalsuan; sebuah keadaan yang oleh Al-Qur’an digambarkan sebagai “gelap di atas gelap”. Oleh karena itu, pembaruan kesadaran menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Sebab, kemajuan peradaban pada hakikatnya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan juga oleh kemampuan manusia untuk terus memperbarui cara berpikirnya.
Kesadaran adalah kunci.
Wallāhu a’lam bi al-shawāb.
Aris Budayawan

Komentar