Tahun Baru Islam dalam Kepungan Delusi, Arogansi, dan Kedangkalan Epistemik
Oleh: Aris Budayawan
Setiap kali kalender Hijriah memasuki tanggal 1 Muharram, ruang publik kita mendadak riuh. Pawai obor digelar di jalan-jalan, ucapan selamat bertaburan di lini masa media sosial, dan khotbah-khotbah tentang pentingnya hijrah menggema di seantero negeri. Namun, di balik kemegahan artifisial tersebut, tersimpan sebuah pertanyaan reflektif yang mengusik: apakah selebrasi tahunan ini mencerminkan sebuah transformasi spiritual yang substansial, ataukah ia hanya sekadar kosmetik kultural yang menyembunyikan krisis pemikiran yang akut?
Jika kita mau jujur membaca realitas sosiologis hari ini, momentum agung Tahun Baru Islam sebenarnya sedang mengalami penyusutan makna yang mengkhawatirkan. Ia sedang terkepung oleh tiga patologi sosial-kognitif yang akut: delusi spiritual, arogansi identitas, dan kedangkalan epistemik.
Delusi Spiritual: Ketika Kesalehan Menjadi Kosmetik
Patologi pertama yang menjangkiti perayaan ini adalah delusi spiritual. Dalam psikologi, delusi adalah keyakinan kuat yang dipertahankan seseorang meskipun bertentangan dengan realitas objektif. Dalam konteks keagamaan kontemporer, delusi ini mewujud dalam bentuk “kesalehan semu” (pseudo-spirituality).
Banyak dari kita yang terjebak dalam ilusi bahwa dengan mengubah penampilan luar, membagikan twibbon bertema Muharram, atau menghadiri seremoni tahunan, kita otomatis telah melakukan hijrah. Ada rasa puas diri yang keliru, seolah-olah ritualitas permukaan tersebut sudah cukup untuk menebus dosa kolektif bangsa.
Akibatnya terjadi pemisahan yang ekstrem antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Perayaan Muharram berjalan sangat meriah, namun di saat yang sama, angka korupsi, praktik manipulasi, dan ketidakadilan sosial di lingkungan sekitar kita tetap bergeming. Kebanyakan dari kita merayakan hijrah sebagai memori masa lalu, bukan sebagai komitmen moral untuk memperbaiki realitas hari ini.
Arogansi Kelompok: Dari Muhasabah Menjadi Penghakiman
Patologi kedua adalah arogansi kelompok yang lahir dari politisasi identitas. Esensi utama dari pergantian tahun adalah muhasabah—sebuah tindakan radikal untuk mengevaluasi cacat dan cela diri sendiri. Namun, dalam lanskap masyarakat yang terpolarisasi, momentum ini sering kali bergeser menjadi panggung untuk menghakimi orang lain.
Hijrah yang sejatinya bermakna inklusif dan merangkul, kerap kali diadopsi secara sempit sebagai instrumen untuk membangun tembok pemisah. Lahir sebuah arogansi moral: sekelompok orang merasa paling islami, paling suci, dan memandang kelompok lain yang berbeda ekspresi budayanya sebagai entitas yang kurang beriman atau bahkan sesat.
Sejarah mencatat bahwa pasca-hijrah, Nabi Muhammad SAW merumuskan Piagam Madinah untuk menyatukan berbagai faksi dan iman yang berbeda. Ironisnya, hari ini perayaan Tahun Baru Islam justru kerap digunakan oleh sebagian oknum untuk menegaskan superioritas kelompok, menolak dialog, dan memelihara sentimen eksklusi sosial.
Kedangkalan Epistemik: Tragedi Berpikir di Era Digital
Patologi ketiga, yang menjadi akar dari segala krisis ini, adalah kedangkalan epistemik (epistemic shallowing). Kita hidup di era di mana informasi keagamaan melimpah ruah secara digital, namun kapasitas berpikir kritis masyarakat justru mengalami penyusutan yang drastis.
Mari kita amati apa yang mendominasi ruang digital kita menjelang 1 Muharram. Narasi yang beredar kerap kali dipenuhi oleh hadis-hadis palsu tentang amalan bulan Muharram, konten doa-doa instan yang dijanjikan menghapus dosa seumur hidup secara otomatis, hingga perdebatan kusir tanpa substansi keilmuan. Informasi ini dikonsumsi secara masif, disebarkan lewat grup-grup obrolan tanpa ada upaya verifikasi (tabayyun).
Masyarakat kita semakin malas untuk membaca kitab-kitab otoritatif, enggan mengkaji konteks sosiologis-historis dari peristiwa hijrah, dan alergi terhadap perbedaan pendapat ilmiah. Epistemologi Islam yang menjunjung tinggi ilmu, riset, dan penalaran akal sehat kini digantikan oleh budaya “salin-tempel” (copy-paste) demi mengejar validasi digital dan kepuasan emosional sesaat.
Menuju Hijrah Epistemis dan Moral
Jika peringatan Tahun Baru Islam terus dibiarkan berada dalam kepungan delusi, arogansi, dan kedangkalan epistemik ini, maka perayaan tersebut tidak lebih dari sekadar rotasi waktu yang hampa tanpa makna. Kita hanya akan terjebak dalam lingkaran setan seremonial yang tidak membawa perubahan peradaban apa pun.
Oleh karena itu, diperlukan sebuah Hijrah Epistemis. Kita harus berani bermigrasi:
Dari delusi ritual menuju kesadaran objektif (di mana iman harus berdampak pada keadilan sosial dan kebersihan moral).
Dari arogansi kelompok menuju kerendahan hati intelektual (inklusif, toleran, dan mau belajar menghargai perbedaan).
Dari kedangkalan berpikir menuju kedalaman literasi (kritis terhadap informasi, mengutamakan data, dan mencintai ilmu).
Tahun Baru Hijriah adalah sebuah interupsi sejarah yang mengajak kita untuk berpikir, bukan melamun dalam kenyamanan dogmatis. Sudah saatnya kita mengalihkan energi bangsa ini dari panggung retorika visual dan parade obor di jalanan, menuju gerakan mencerdaskan akal budi dan memuliakan kemanusiaan. Hanya dengan cara itulah, hijrah benar-benar menjadi sebuah kemenangan peradaban.

Komentar