Advertisement
Home » Bahasa yang Sakit, Bangsa yang Pandai Berkilah

Bahasa yang Sakit, Bangsa yang Pandai Berkilah

Ada gejala sosial yang menggelitik sekaligus mencemaskan dalam cara kita berkomunikasi hari ini: kita semakin mahir bersilat lidah. Sebagai masyarakat, kita seolah sedang mengidap penyakit “takut pada kenyataan,” sehingga kita merasa perlu membungkus setiap keburukan dengan istilah-istilah baru yang terdengar lebih akademis, keren, atau sekadar lebih nyaman di telinga.

Mari kita bedah secara jujur metafora-metafora yang belakangan ini kerap kita saksikan di panggung publik:

Ketika “Bengkok” Disebut “Lentur”

Dalam logika material, sesuatu yang bengkok itu cacat. Ia tidak lagi lurus. Namun dalam panggung retorika kita, ketika aturan hukum atau kebijakan sengaja dibengkokkan demi syahwat kekuasaan atau kepentingan golongan, kita buru-buru menyebutnya sebagai “fleksibilitas” atau “sikap lentur”. Ini bukan adaptasi yang cerdas, melainkan kompromi moral yang dipaksakan. Saat hukum dibuat selentur karet, kita sedang mengorbankan keadilan demi kenyamanan segelintir orang.

Ketika “Culas” Disebut “Lihai”

Mudzakaroh PAC Fatayat NU Lebaksiu Menggema, Ratusan Kader Perkuat Silaturahmi dan Konsolidasi Organisasi

Dahulu, orang yang curang akan dikutuk dan dikucilkan. Hari ini, batas itu mengabur. Seseorang yang memotong kompas, memanipulasi sistem, atau menipu demi mencapai puncak, sering kali kita puji dengan sebutan “lihai”, “cerdik”, atau “pandai melihat peluang”. Ada pergeseran nilai yang mengerikan di sini. Ketika keculasan diglorifikasi sebagai bentuk kecerdasan, kita sedang mendidik generasi masa depan bahwa menjadi jujur itu bodoh, dan menjadi curang adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup.

Ketika “Serong” Disebut “Taktis”

Langkah yang serong—entah itu berupa korupsi skala kecil, nepotisme halus, atau penyalahgunaan wewenang—kini punya baju baru bernama “langkah taktis”. Istilah ini sering dipakai di ranah politik dan birokrasi untuk mencuci bersih dosa-dosa etis. Selama tujuannya tercapai, proses yang melenceng dan serong dianggap sebagai bagian dari strategi permainan. Kita lupa bahwa langkah taktis yang menabrak etika lambat laun akan meruntuhkan rumah besar bernama kepercayaan publik.

Ketika “Sesat” Disebut “Alternatif”

Fenomenologi Kesadaran Palsu: Ketika Manusia Tidak Menyadari Kekeliruannya Sendiri

Ini adalah puncak dari relativisme moral kita. Ketika suatu kebijakan atau pemikiran jelas-jelas keliru secara data, logika, dan dampak empiris, kita enggan mengakuinya sebagai kesesatan berpikir. Kita justru melabelinya sebagai “pandangan alternatif” atau “solusi out-of-the-box”. Menghargai perbedaan pendapat itu perlu, tetapi menyamarkan kesalahan fatal sebagai sebuah “pilihan alternatif” hanya akan membuat kita terus berjalan di jalan yang buntu.

Kebiasaan berkilah ini bukan sekadar urusan memilih kosakata di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Ini adalah cerminan dari hati nurani yang mulai tumpul. Ketika kita tidak lagi berani menyebut yang salah sebagai salah, dan yang benar sebagai benar, kita sedang menipu diri sendiri.

Jika kita ingin tumbuh menjadi bangsa yang besar dan dihormati, kita harus menyembuhkan cara kita berbahasa. Berhentilah bersolek di balik eufemisme yang manipulatif. Seburuk apa pun situasinya, sebutkanlah ia apa adanya. Karena obat pertama dari bangsa yang sedang sakit adalah keberanian untuk mengakui penyakitnya, bukan sibuk mencari nama keren untuk gejalanya.

Mudzakaroh PAC Muslimat NU Lebaksiu dan Santunan 70 Anak Yatim Berlangsung Khidmat di Musholla Baiturrohim Lebaksiu Kidul

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *