Advertisement Advertisement
Home » Khutbah Jumat: Menumbuhkan Empati di Tengah Retaknya Ikatan Sosial

Khutbah Jumat: Menumbuhkan Empati di Tengah Retaknya Ikatan Sosial

Di tengah zaman yang ditandai oleh keretakan ikatan sosial dan lunturnya empati, Islam mengingatkan kita akan pentingnya menumbuhkan kembali kasih sayang sebagai inti kehidupan beragama. Allah SWT melarang sikap merendahkan sesama dan saling mencela, mengajarkan bahwa kemuliaan sejati terletak pada ketakwaan dan keikhlasan hati, bukan pada status duniawi. Naskah khutbah Jumat berikut ini berjudul, “Khutbah Jumat: Menumbuhkan Empati di Tengah Retaknya Ikatan Sosial”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
الحَمْدُ للهِ، الحَمْدُ للهِ الَّذِي شَرَحَ صُدُورَ أَهْلِ الْإِسْلَامِ بِالْهُدَى، وَنَكَتَ فِي قُلُوبِ أَهْلِ الطُّغْيَانِ فَلَا تَعِي الْحِكْمَةَ أَبَدًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ شَهَادَةَ مَنْ آمَنَ بِهِ وَلَمْ يُشْرِكْ بِهِ أَحَدًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ: اتَّقُوا اللهَ؛ فَإِنَّ تَقْوَاهُ أَفْضَلُ مُكْتَسَبٍ، وَطَاعَتَهُ أَعْلَى نَسَبٍ، فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan juga kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita meningkatkan takwa kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Takwa adalah menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam urusan ibadah ritual maupun dalam interaksi sosial kita sehari-hari.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Kita hidup di zaman di mana ikatan sosial semakin rapuh. Kita menyaksikan banyak fenomena yang menunjukkan lunturnya empati berupa perundungan di sekolah, ujaran kebencian di media sosial, permusuhan antarwarga hanya karena perbedaan pilihan, bahkan kadang sesama tetangga tidak saling peduli. Semua ini menunjukkan betapa pentingnya kita menumbuhkan kembali empati dan kasih sayang sebagai inti dari kehidupan beragama. Allah Ta’ala menegaskan dalam Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 11:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang direndahkan itu lebih baik daripada mereka.” Dalam Tafsirul Munir karya Syekh Wahbah az-Zuhaili jilid 26, halaman 253 dijelaskan bahwa larangan ini mencakup laki-laki maupun perempuan, individu maupun kelompok, karena siapa tahu yang diremehkan justru lebih mulia di sisi Allah. Beliau mengutip sebuah ungkapan: “Janganlah engkau hina orang miskin, bisa jadi suatu hari engkau yang tunduk kepadanya, dan zaman telah mengangkat derajatnya.” Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Islam menekankan bahwa kemuliaan seseorang bukan karena harta, warna kulit, atau status sosialnya, tetapi karena ketakwaan dan kebersihan hati. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Artinya, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian,” (HR. Muslim, Ibnu Majah). Artinya, hal yang membuat kita mulia adalah keikhlasan hati, kebaikan amal, dan ketakwaan, bukan simbol atau gelar dunia. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Al-Qur’an juga melarang kita saling mencela dan menghina dengan kata-kata. Allah berfirman:
وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
Artinya, “Janganlah kalian saling mencela dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk,” (QS. al-Hujurat: 11). Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsirul Munir menjelaskan bahwa melukai perasaan seorang mukmin dengan celaan sama saja seperti mencela diri sendiri, karena umat Islam ibarat satu tubuh. Itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda:
“المُؤْمِنُونَ كَرَجُلٍ وَاحِدٍ، إِنِ اشْتَكَى رَأْسُهُ اشْتَكَى كُلُّهُ، وَإِنِ اشْتَكَى عَيْنُهُ اشْتَكَى كُلُّهُ
Artinya, “Orang-orang beriman itu seperti satu tubuh, bila salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra)
Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim, jilid 8, halaman 395 menegaskan bahwa hadits ini adalah dalil betapa besar hak sesama muslim, serta dorongan agar mereka saling berempati, berlemah lembut, dan saling mendukung dalam kebaikan. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Mari kita lihat kondisi sekitar kita. Betapa banyak orang yang diejek karena kondisi ekonominya, dilecehkan karena fisiknya, atau dibully karena penampilannya. Padahal, Allah dengan tegas melarang sikap merendahkan seperti itu. Bahkan Nabi SAW memperingatkan bahwa menyakiti tetangga saja bisa menghilangkan kesempurnaan iman. Dalam hadits shahih beliau bersabda:
وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ. قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
Artinya, “Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman!” Para sahabat bertanya: Siapa, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Inilah kerusakan sosial yang terjadi di tengah-tengah kita, yaitu ketika tidak ada lagi rasa aman, saling percaya, dan kepedulian antarwarga. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Sebaliknya, Islam mengajarkan kita untuk menumbuhkan empati, menolong yang lemah, dan menjaga ikatan sosial. Allah berfirman dalam surat al-Ma’idah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Artinya, “Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsirul Munir jilid 6, halaman 69 menafsirkan ayat ini sebagai prinsip umum kehidupan sosial. Segala bentuk kebaikan yang dituntunkan syariat termasuk dalam birr wa taqwa, sementara segala perbuatan yang menyakiti, merusak, atau melanggar hak orang lain termasuk itsm wa ‘udwan yang harus dijauhi. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Empati yang dapat mempererat ikatan sosial kita sebagai warga bisa dimulai dari hal-hal kecil. Misalnya menjenguk tetangga yang sakit, membantu tetangga yang terkena musibah, menyapa dengan salam jika bertemu, atau sekadar tersenyum Mari kita jadikan khutbah hari ini sebagai pengingat bahwa retaknya ikatan sosial hanya bisa diperbaiki dengan empati. Jangan sekali-kali kita remehkan orang lain, jangan kita saling mengejek, jangan saling memanggil dengan gelar yang buruk. Sebaliknya, tebarkan kasih sayang, perkuat solidaritas, dan bangun masyarakat yang saling peduli. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang saling menyayangi, saling menguatkan, dan saling mendoakan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Amien Nurhakim, Redaktur Keislaman NU Online dan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas PTIQ Jakarta.

Sumber: https://islam.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-menumbuhkan-empati-di-tengah-retaknya-ikatan-sosial-i9nxi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *