Jakarta, 10 November 2026 — Bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan Nasional, Presiden Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada dua tokoh besar Nahdlatul Ulama, yakni KH. Muhammad Kholil bin Abdul Lathif dari Bangkalan, Madura, dan KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, mantan Presiden keempat Republik Indonesia.
Upacara penganugerahan digelar secara khidmat di Istana Negara, Jakarta, dengan dihadiri oleh Wakil Presiden, para Menteri Kabinet Indonesia Maju, pimpinan lembaga tinggi negara, serta ahli waris kedua tokoh.
Dalam sambutannya, Presiden menyatakan bahwa pemberian gelar ini merupakan bentuk penghargaan negara terhadap jasa dan perjuangan luar biasa dua ulama besar tersebut dalam memperjuangkan kemerdekaan, membangun kebangsaan, serta memperkokoh nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan di Indonesia.
> “KH. Kholil Bangkalan adalah guru para ulama besar pendiri bangsa. Dari beliau lahir generasi pejuang kemerdekaan, termasuk KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Sementara KH. Abdurrahman Wahid adalah simbol toleransi, demokrasi, dan keberagaman yang menjadi ruh bangsa Indonesia,” ujar Presiden dalam pidatonya.
KH. Kholil Bangkalan: Guru Para Ulama Pejuang
KH. Muhammad Kholil bin Abdul Lathif, atau lebih dikenal sebagai Syaikhona Kholil Bangkalan, merupakan ulama karismatik asal Madura yang hidup pada abad ke-19. Dikenal sebagai guru spiritual KH. Hasyim Asy’ari, beliau berperan besar dalam membentuk gerakan keagamaan yang kemudian menjadi dasar berdirinya Nahdlatul Ulama pada tahun 1926.
Selain dikenal sebagai ahli ilmu agama dan tasawuf, Syaikhona Kholil juga dikenal memiliki semangat kebangsaan yang tinggi. Melalui pesantrennya di Bangkalan, beliau menanamkan nilai-nilai jihad, cinta tanah air, dan semangat melawan penjajahan kepada para santri dan ulama muda kala itu.
> “Beliau bukan hanya guru agama, tapi juga guru bangsa. Semangat beliau melahirkan gerakan Islam moderat yang mencintai Indonesia apa adanya,” ujar Menteri Agama dalam keterangan persnya.
Gus Dur: Pejuang Demokrasi dan Kemanusiaan
Sementara itu, KH. Abdurrahman Wahid (1940–2009) dikenal luas sebagai tokoh yang memperjuangkan demokrasi, pluralisme, dan hak asasi manusia di Indonesia. Selama menjabat sebagai Presiden keempat Republik Indonesia (1999–2001), Gus Dur dikenal sebagai pemimpin yang menempatkan kemanusiaan di atas politik dan agama di atas kepentingan kekuasaan.
Gus Dur juga berperan besar dalam memperkuat hubungan antaragama dan antaretnis. Kebijakannya yang mencabut larangan terhadap kebudayaan Tionghoa serta memperjuangkan kesetaraan kelompok minoritas masih dikenang hingga kini.
Putri sulung Gus Dur, Yenny Wahid, yang hadir dalam upacara tersebut, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada pemerintah serta seluruh masyarakat yang terus melestarikan nilai-nilai perjuangan ayahnya.
> “Gus Dur tidak pernah berjuang untuk mendapat gelar. Tapi penghargaan ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa perjuangan beliau belum selesai — perjuangan untuk menjaga kemanusiaan dan keadilan,” ujar Yenny dengan mata berkaca-kaca.
Makna Hari Pahlawan 2026
Penganugerahan dua tokoh besar NU ini juga memiliki makna tersendiri dalam peringatan Hari Pahlawan 2026. Pemerintah menegaskan bahwa perjuangan para ulama dan santri merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah kemerdekaan dan pembangunan Indonesia.
Ketua Umum PBNU dalam pernyataannya menyampaikan bahwa keputusan Presiden tersebut menjadi kado berharga bagi umat Islam, khususnya warga Nahdlatul Ulama.
> “Negara akhirnya mengakui jasa dua tokoh besar yang telah menyalakan lentera perjuangan bangsa. Dari Madura hingga ke seluruh Nusantara, semangat mereka terus hidup,” ungkapnya.
Penutup
Upacara diakhiri dengan penyerahan piagam dan tanda kehormatan Bintang Mahaputera kepada ahli waris kedua tokoh, disertai lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan doa bersama.
Dengan penganugerahan ini, jumlah Pahlawan Nasional Indonesia kini mencapai lebih dari 200 orang, termasuk sejumlah ulama besar yang berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan dan memperkuat fondasi moral bangsa.
—
By djaf

Comment