Ranting NU Slarang Kidul Gelar Rutinan Lailatul Ijtima, Perkuat Kesadaran dan Kesalehan Diri serta Sosial
SLARANG KIDUL — Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Slarang Kidul kembali menggelar kegiatan rutin Lailatul Ijtima sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat kesadaran keagamaan, kesalehan pribadi, sekaligus kesalehan sosial warga Nahdliyin.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Senin malam Selasa, 28 September 2026, bertempat di Mushola Baitul Atiq, Slarang Kidul. Rangkaian kegiatan berlangsung mulai pukul 20.10 hingga 22.00 WIB, dengan diikuti pengurus NU, badan otonom, jamaah, serta masyarakat sekitar.
Lailatul Ijtima tidak sekadar menjadi forum pertemuan rutin. Kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi, penguatan nilai-nilai keislaman, konsolidasi organisasi, sekaligus sarana untuk membangun kesadaran bahwa keberagamaan tidak berhenti pada kesalehan individual, tetapi juga perlu diwujudkan dalam kepedulian terhadap kehidupan sosial dan kemasyarakatan.
Dibuka dengan MC yang Tenang dan Terstruktur
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan yang dipandu oleh Ketua LDNU Ranting NU Slarang Kidul, Ustaz Lukman Hakim, selaku pembawa acara.
Dengan suara yang tenang dan jelas, Ustaz Lukman Hakim memandu jalannya kegiatan secara runtut. Setiap susunan acara disampaikan dengan penuh kehati-hatian sehingga pembukaan berlangsung tertib, sistematis, dan memberikan suasana yang khidmat bagi seluruh jamaah.
Pembukaan menjadi pintu masuk bagi seluruh peserta untuk mengikuti rangkaian Lailatul Ijtima dengan suasana yang lebih tenang sekaligus penuh semangat.
Indonesia Raya dan Mars Subhanul Wathan
Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Subhanul Wathan.
Kedua lagu tersebut dipimpin oleh Sekretaris Ranting NU Slarang Kidul, Aris Munandar.
Penyanyian Indonesia Raya menjadi pengingat bahwa kecintaan terhadap bangsa merupakan bagian penting dari kehidupan warga Nahdlatul Ulama. Sementara Mars Subhanul Wathan menjadi ekspresi kecintaan terhadap tanah air sekaligus penguatan semangat perjuangan dan pengabdian warga NU.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan keagamaan dan kehidupan kebangsaan dapat berjalan berdampingan dalam bingkai kecintaan terhadap agama, masyarakat, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Istighosah Dipimpin Rois Syuriah
Suasana kemudian semakin khidmat ketika jamaah memasuki rangkaian istighosah bersama.
Pembacaan kalimat-kalimat thayyibah tersebut dipimpin langsung oleh Rois Syuriah NU Slarang Kidul, Kiai Jaelani Zen.
Istighosah menjadi salah satu bagian penting dalam Lailatul Ijtima. Melalui doa dan dzikir bersama, jamaah diajak untuk kembali menyadari keterbatasan manusia serta pentingnya memohon pertolongan, keberkahan, dan petunjuk kepada Allah SWT.
Di tengah berbagai dinamika kehidupan masyarakat, istighosah juga menjadi momentum untuk membangun ketenangan batin sekaligus memperkuat ikatan spiritual antarsesama jamaah.
Ketua Tanfidiyah Paparkan Arah Gerakan NU Slarang Kidul
Usai istighosah, acara dilanjutkan dengan sambutan Ketua Tanfidiyah PRNU Slarang Kidul, Ustaz H. Ah. Subkhan.
Dalam sambutannya, beliau menyampaikan mengenai visi dan misi NU Slarang Kidul, khususnya dalam menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus memperkuat kohesivitas masyarakat Slarang Kidul.
Menurutnya, NU tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam bidang keagamaan, tetapi juga mempunyai peran sosial dalam menjaga hubungan antarsesama warga.
Karena itu, persaudaraan menjadi salah satu fondasi penting dalam gerakan NU. Persaudaraan tersebut mencakup ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah, yang semuanya diarahkan untuk membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dalam bingkai rahmatan lil ‘alamin.
Ukhuwah Islamiyah menjadi landasan persaudaraan sesama umat Islam. Ukhuwah wathaniyah memperkuat rasa kebangsaan dan kecintaan terhadap tanah air. Sementara ukhuwah basyariyah menegaskan bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk membangun hubungan kemanusiaan yang baik tanpa memandang perbedaan latar belakang.
Ketiga dimensi persaudaraan tersebut dipandang penting untuk terus dirawat agar kehidupan masyarakat tetap kokoh di tengah perubahan zaman dan berbagai tantangan sosial.
Menghidupkan Kembali Koin NU
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tanfidiyah juga menyampaikan sejumlah program yang menjadi bagian dari misi kepengurusan PRNU Slarang Kidul masa khidmat 2026–2031.
Salah satu program yang mendapat perhatian adalah upaya menghidupkan kembali Koin NU.
Program Koin NU diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen kemandirian organisasi sekaligus sarana membangun budaya berbagi dan bersedekah di tengah masyarakat.
Selain itu, program kerja PRNU Slarang Kidul juga diarahkan pada berbagai agenda yang bersifat jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.
Pembagian program berdasarkan rentang waktu tersebut dimaksudkan agar gerakan organisasi tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi memiliki arah, target, kesinambungan, serta manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Dalam kerangka tersebut, Lailatul Ijtima menjadi salah satu ruang penting untuk menyampaikan program sekaligus menjaga komunikasi antara pengurus dan jamaah.
Pengurus Mushola Baitul Atiq Sampaikan Terima Kasih
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Al Ustaz Syehudin, selaku pengurus dan pembina Mushola Baitul Atiq yang juga merupakan anggota LDNU.
Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada jajaran pengurus NU Slarang Kidul dan seluruh jamaah yang telah hadir di Mushola Baitul Atiq.
Beliau juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam proses penyambutan maupun penyediaan tempat dan berbagai kebutuhan kegiatan masih terdapat kekurangan atau hal-hal yang kurang berkenan.
Sikap tersebut menjadi bagian dari tradisi tawadhu dan penghormatan kepada para tamu serta jamaah yang hadir.
Pertemuan Lailatul Ijtima di Mushola Baitul Atiq sekaligus menjadi momentum mempererat hubungan antara pengurus NU, pengurus mushola, dan masyarakat.
Kajian Fathul Qorib dan Dialog Thaharah
Setelah rangkaian sambutan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan agenda utama berupa pembacaan dan kajian kitab Fathul Qorib.
Kajian tersebut disampaikan oleh Ustaz Mudrik, selaku Ketua Bahtsul Masail NU Slarang Kidul.
Materi kajian masih berada dalam pembahasan bab thaharah atau bersuci.
Kajian Fathul Qorib menjadi bagian penting dalam Lailatul Ijtima karena memberikan ruang kepada jamaah untuk memperdalam pemahaman terhadap fikih. Materi tidak hanya disampaikan dalam bentuk ceramah satu arah, tetapi juga diisi dengan tanya jawab, sehingga jamaah memiliki kesempatan untuk menyampaikan persoalan yang berkaitan dengan praktik ibadah sehari-hari.
Model kajian semacam ini menjadi penting karena pengetahuan keagamaan tidak cukup hanya dipahami secara teoritis. Pemahaman fikih perlu dihubungkan dengan persoalan kehidupan nyata agar jamaah mampu menjalankan ibadah dengan dasar ilmu yang memadai.
Pembahasan thaharah, misalnya, memiliki hubungan langsung dengan kehidupan seorang Muslim karena bersuci merupakan bagian penting dalam pelaksanaan berbagai ibadah.
Dengan adanya sesi tanya jawab, jamaah juga dapat mengklarifikasi persoalan-persoalan yang mungkin mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Forum tersebut sekaligus memperlihatkan fungsi Bahtsul Masail sebagai ruang pengkajian persoalan keagamaan secara lebih mendalam dan kontekstual.
Lailatul Ijtima sebagai Ruang Konsolidasi
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup oleh Mustasyar NU Slarang Kidul, Al Ustaz Arif Yakin.
Penutupan menjadi akhir dari kegiatan yang berlangsung kurang lebih satu jam lima puluh menit tersebut.
Namun demikian, nilai penting Lailatul Ijtima tidak berhenti ketika acara berakhir. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses panjang membangun organisasi yang memiliki basis spiritual, intelektual, sosial, dan organisatoris.
Melalui dzikir dan istighosah, jamaah memperoleh ruang untuk memperkuat hubungan spiritual. Melalui kajian kitab, jamaah memperoleh penguatan intelektual dan keagamaan. Melalui sambutan dan penyampaian program, warga mendapatkan pemahaman mengenai arah organisasi. Sementara melalui pertemuan dan silaturahmi, hubungan sosial antarwarga semakin diperkuat.
Dengan demikian, Lailatul Ijtima menjadi ruang perjumpaan antara ilmu, spiritualitas, organisasi, dan pengabdian sosial.
Dari Kesadaran Menuju Gerakan
Kegiatan rutin seperti Lailatul Ijtima memiliki makna strategis bagi keberlangsungan organisasi. Sebuah organisasi keagamaan tidak cukup hanya memiliki struktur kepengurusan. Ia membutuhkan perjumpaan yang terus-menerus agar nilai, gagasan, dan program dapat diterjemahkan menjadi gerakan bersama.
Pengetahuan tanpa organisasi dapat berhenti sebagai kesadaran yang tersimpan di dalam kepala. Sebaliknya, organisasi tanpa pengetahuan dapat kehilangan arah.
Karena itu, keduanya perlu dipertemukan.
Ilmu memberikan arah, organisasi menyediakan jalan, strategi menentukan langkah, sedangkan pengabdian menjadi ukuran kemanfaatannya.
Semangat inilah yang dapat terus dikembangkan melalui Lailatul Ijtima. Forum rutin tersebut bukan sekadar agenda berkumpul, melainkan ruang untuk menjaga tradisi keilmuan, memperkuat spiritualitas, membangun persaudaraan, menyampaikan program organisasi, serta menumbuhkan kesadaran sosial.
PRNU Slarang Kidul melalui masa khidmat 2026–2031 memiliki pekerjaan organisasi yang cukup panjang. Program jangka pendek, menengah, dan panjang membutuhkan konsistensi, komunikasi, dan keterlibatan berbagai unsur masyarakat.
Karena itu, keberadaan Lailatul Ijtima diharapkan dapat menjadi salah satu fondasi untuk menjaga kesinambungan gerakan NU di tingkat ranting.
Dari Mushola Baitul Atiq, semangat itu kembali diteguhkan: memperkuat iman, memperluas ilmu, merawat persaudaraan, menghidupkan organisasi, dan menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat.
Lailatul Ijtima bukan sekadar malam untuk berkumpul, tetapi ikhtiar untuk mengubah kesadaran menjadi gerakan dan pengetahuan menjadi pengabdian.

