Menurunnya kepercayaan publik terhadap sistem pendidikan tradisional di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) menimbulkan kekhawatiran serius. Salah satu dampak yang mulai tampak adalah munculnya segregasi sosial di antara jamaah NU sendiri, terutama dalam akses dan pilihan lembaga pendidikan.
Perbedaan Akses Berdasarkan Ekonomi
Fenomena ini tampak jelas di lingkungan masyarakat NU. Kelompok NU yang memiliki kemampuan finansial—khususnya kelas menengah ke atas—cenderung memilih sekolah atau pesantren modern yang berbiaya tinggi dan memiliki fasilitas lengkap. Sementara itu, masyarakat NU dari kalangan ekonomi lemah tetap bertahan di lembaga pendidikan tradisional yang lebih murah, meski dengan sarana dan prasarana terbatas.
Kondisi ini sangat berbeda dengan masa lalu, ketika tidak ada jarak mencolok antara yang kaya dan miskin di dunia pendidikan NU. Pada masa itu, anak-anak dari berbagai lapisan sosial belajar bersama di lembaga yang sama. Kaum kaya NU berperan besar dalam menopang keberlangsungan pesantren atau madrasah melalui sedekah, wakaf, dan hibah. Mekanisme sosial ini menciptakan keseimbangan: pendidikan bisa dinikmati secara merata, dan solidaritas jamaah terjaga.
Retaknya Solidaritas Sosial
Kini, seiring meningkatnya orientasi kelas dan prestise dalam memilih lembaga pendidikan, sistem subsidi sosial itu perlahan melemah. Mereka yang memiliki sumber daya lebih memilih jalur eksklusif, sementara kelompok bawah kehilangan akses terhadap sumber daya sosial dan kultural yang dulu tersedia.
Akibatnya, terbentuk dua lapisan sosial dalam tubuh NU:
1. Kaum NU kaya yang terus mengakumulasi modal ekonomi dan kultural; anak-anak mereka belajar di lembaga yang lebih modern, dengan kualitas pembelajaran yang adaptif dan canggih.
2. Kaum NU miskin yang semakin tertinggal dalam hal fasilitas, kualitas pengajaran, dan peluang mobilitas sosial.
Segregasi ini tidak hanya menimbulkan kesenjangan pendidikan, tetapi juga memudarkan rasa kebersamaan dan tanggung jawab sosial di antara sesama warga NU.
Menyelamatkan Solidaritas Pendidikan NU
Jika fenomena ini terus dibiarkan, maka cita-cita pendidikan NU—yakni mencetak generasi berilmu, berakhlak, dan berkeadilan sosial—akan semakin sulit terwujud. Diperlukan langkah-langkah strategis untuk mengembalikan ruh kebersamaan dalam dunia pendidikan NU:
Menghidupkan kembali semangat ta‘awun (saling menolong) dan tanggung jawab kolektif antaranggota.
Mendorong para aghniya’ NU untuk kembali berperan aktif dalam pendanaan pendidikan tradisional.
Menguatkan sinergi antara pesantren, madrasah, dan lembaga formal modern agar tidak terjadi dikotomi sosial di tubuh NU.
Pendidikan seharusnya menjadi jembatan pemersatu, bukan pemisah. Dalam konteks NU, pendidikan adalah manifestasi dari nilai keadilan sosial dan kemandirian jamaah. Jika segregasi sosial dalam pendidikan dibiarkan berlanjut, maka yang terancam bukan hanya kualitas generasi NU, tetapi juga solidaritas dan keutuhan sosial yang telah menjadi fondasi utama perjuangan Nahdlatul Ulama.
—
by djaf

Comment