Pengajian kitab Hujjah Ahlussunah wal Jamaah yang menjadi kajian rutin MWC NU Lebaksiu pada rutinan ahad pahing, hari ini ahad 12 Oktober 2025 bertempat di Masjid Baiturokhim Mejasem Tegalandong di baca oleh KH. Amirudin Wakil Rois Syuriah MWC NU Lebaksiu yang membaca bab Ziarah Rasulullah SAW dan Beratnya Perjalanan Kepadanya.
Ziarah ke makam Rasulullah SAW bukanlah sekadar perjalanan lahiriah menuju Kota Madinah, tetapi juga perjalanan batin menuju kedekatan spiritual dengan manusia termulia yang pernah diciptakan Allah SWT. Sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qodhi Iyadh dalam Asy-Syifa bi Ta‘rifi Huquqil Mushthafa, berziarah ke makam Rasulullah SAW adalah kesunahan yang telah disepakati oleh para ulama dan memiliki keutamaan besar di dalamnya.
Ziarah ini bukan hanya simbol kerinduan, tetapi juga pengakuan atas cinta yang sejati. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang berziarah kepadaku di Kota Madinah semata-mata untuk mencari ridha Allah, maka dia ada di dalam perlindunganku dan aku menjadi pemberi syafa’at baginya pada hari kiamat.”
(HR. Ibnu Umar)
Hadits ini menegaskan bahwa ziarah yang dilakukan dengan niat yang ikhlas, bukan untuk tujuan duniawi, akan mengantarkan seorang hamba ke dalam jaminan kasih sayang dan perlindungan Nabi SAW. Betapa besar anugerah ini — sebuah perjalanan yang berujung pada syafa’at, bukan sekadar langkah kaki menuju makam, melainkan perjalanan hati menuju rahmat Ilahi.
Namun, perjalanan menuju ziarah Rasulullah SAW sering kali berat. Ada jarak yang jauh, biaya yang tidak sedikit, serta perjuangan fisik dan batin yang harus ditempuh. Tapi justru di situlah letak nilai pengorbanan seorang pecinta Rasul. Setiap langkah menuju Madinah adalah tanda kerinduan, setiap rintangan adalah ujian cinta. Beratnya perjalanan itu menjadi bukti bahwa cinta kepada Nabi bukan hanya diucapkan, tetapi diperjuangkan.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barang siapa yang menziarahi kuburku, maka wajib baginya syafa’atku.”
(HR. Thabrani)
Janji syafa’at ini menjadi penyejuk bagi hati yang merindu. Seorang penyair bahkan menuturkan dengan indah:
“Barang siapa yang berziarah kepada Nabi Muhammad, maka dia akan memperoleh syafa’at di hari esok.
Maka jadikanlah sholawatmu sebagai bekal, lantunkan dengan cinta, niscaya engkau akan memperoleh petunjuk.”
Syekh KH. Ali Maksum dalam Hujjah Ahlussunnah wal Jama‘ah menegaskan keistimewaan Nabi SAW yang senantiasa menerima salam dan sholawat dari umatnya, baik yang diucapkan di hadapan makamnya maupun dari tempat yang jauh. Hadits Nabi SAW menyebutkan:
“Barang siapa membaca sholawat kepadaku di sisi kuburku, maka aku mendengarnya. Dan barang siapa membaca sholawat dari tempat yang jauh, maka hal itu akan tersampaikan kepadaku.”
Dengan demikian, walaupun tidak semua umat mampu menziarahi beliau secara langsung, cinta dan salam kepada Rasulullah tetap sampai kepadanya. Di sinilah kasih sayang Nabi SAW terpancar — beliau tidak memutus hubungan dengan umatnya meski telah wafat, bahkan tetap mendengar dan menyampaikan salam-salam cinta mereka melalui malaikat.
Oleh sebab itu, ziarah Rasulullah SAW adalah bentuk tertinggi dari penghormatan, pengakuan, dan cinta. Beratnya perjalanan menuju Madinah sejatinya menjadi simbol beratnya perjuangan untuk meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari. Bila ziarah jasmani mungkin sulit dilakukan karena jarak dan kemampuan, maka ziarah hati — dengan memperbanyak sholawat, meneladani sunnah, dan menjaga cinta kepada beliau — dapat dilakukan setiap saat.
Maka marilah kita jadikan cinta kepada Rasulullah SAW bukan sekadar kerinduan yang pasif, tetapi semangat untuk meneladani beliau dalam kelembutan, kesabaran, dan kasih kepada sesama. Sebab, sebagaimana sabda beliau:
“Barang siapa yang mencintaiku, maka ia akan bersamaku di surga.”
Dan bukankah setiap peziarah sejati, di ujung perjalanan panjangnya, hanya ingin satu hal — bertemu dan bersama dengan Nabi yang dicintainya?

Comment