Lebaksiu, 26 Juli 2026 – Jam’iyatul Hujjaj Ziyadatul Khoir MWC NU Kecamatan Lebaksiu kembali menggelar kegiatan rutin bulanan yang bertempat di kediaman H. Rojiun dan Hj. Hartati Mulyaningsih, Desa Jatimulya, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, pada Ahad (26/7/2026). Kegiatan yang dihadiri para anggota Jam’iyatul Hujjaj beserta masyarakat sekitar ini berlangsung dengan penuh kekhidmatan sebagai wadah mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus meningkatkan kualitas ibadah para alumni haji.
Acara diawali dengan pembukaan yang dipandu oleh Hj. Nakiroh, dilanjutkan pembacaan istighosah dan tahlil yang dipimpin oleh KH. Rozikin. Suasana penuh kekhusyukan tampak menyelimuti seluruh jamaah yang bersama-sama memanjatkan doa dan munajat kepada Allah SWT.
Ketua Jam’iyatul Hujjaj Ziyadatul Khoir, H. A. Ja’far, dalam sambutannya menyampaikan bahwa salah satu ruh utama kegiatan Jam’iyatul Hujjaj adalah istighosah, yaitu memohon pertolongan hanya kepada Allah SWT dalam setiap urusan kehidupan.
Beliau menjelaskan bahwa sebagai seorang mukmin, setiap ikhtiar harus selalu dibarengi dengan doa dan ketergantungan kepada Allah SWT. Istighosah menjadi bentuk penghambaan sekaligus pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan, sedangkan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
H. A. Ja’far kemudian mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 186:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh petunjuk.”
Menurutnya, ayat tersebut memberikan keyakinan bahwa Allah sangat dekat dengan hamba-Nya dan akan mengijabah doa siapa pun yang bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya. Oleh karena itu, kegiatan istighosah bukan sekadar tradisi, melainkan amalan yang memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an untuk memperkuat keimanan, kesabaran, dan tawakal kepada Allah SWT.
Memasuki sesi Mauidhoh Hasanah, KH. Masruri menyampaikan tausiyah yang berfokus pada kandungan Surah Al-‘Ashr. Beliau menjelaskan bahwa surah yang singkat tersebut mengandung pesan yang sangat mendalam mengenai perjalanan hidup manusia.
Menurut KH. Masruri, Allah SWT menegaskan bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian apabila hidupnya tidak diisi dengan empat perkara utama, yaitu beriman kepada Allah, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, serta saling menasihati dalam kesabaran.
Beliau mengajak seluruh jamaah agar menjadikan Surah Al-‘Ashr sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari banyaknya harta atau jabatan, tetapi dari sejauh mana waktu yang diberikan Allah dimanfaatkan untuk beribadah, berbuat baik, menjaga persaudaraan, serta terus mengajak kepada kebaikan dan kesabaran.
KH. Masruri juga mengingatkan bahwa para jamaah haji memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi teladan di tengah masyarakat. Predikat haji mabrur hendaknya tercermin melalui akhlak yang baik, kepedulian sosial, semangat memakmurkan masjid, serta aktif dalam kegiatan keagamaan yang memberikan manfaat bagi umat.
Kegiatan Jam’iyatul Hujjaj Ziyadatul Khoir ditutup dengan doa bersama, dilanjutkan ramah tamah antarjamaah. Melalui rutinan ini diharapkan silaturahmi antaranggota semakin erat, semangat beribadah terus meningkat, dan nilai-nilai yang diajarkan dalam Al-Qur’an senantiasa menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan.
Sesuai dengan makna “Ziyadatul Khoir” yang berarti bertambahnya kebaikan, seluruh rangkaian kegiatan diharapkan mampu menghadirkan keberkahan, memperkuat persaudaraan, serta menumbuhkan semangat untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa, istighosah, amal saleh, dan pengabdian kepada masyarakat.

