Lailatul Ijtima NU Ranting Kesuben, Menguatkan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah
KESUBEN — Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Kesuben bersama badan otonom (Banom) NU dan warga Desa Kesuben kembali melaksanakan kegiatan Lailatul Ijtima pada Jumat malam Sabtu, 25 September 2026, bertepatan dengan 15 Rabiul Akhir 1448 H. Kegiatan keagamaan tersebut bertempat di Musholla Baitul Muttaqien, RW 09, Desa Kesuben.
Lailatul Ijtima merupakan salah satu program rutin NU Ranting Kesuben yang dilaksanakan secara bergiliran dari masjid dan musholla di wilayah Desa Kesuben. Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus sarana penguatan kehidupan keagamaan masyarakat, khususnya dalam menjaga dan mengamalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Kegiatan tersebut diikuti oleh jajaran pengurus NU Ranting Kesuben, Banom NU, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga Desa Kesuben. Kehadiran masyarakat dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa Lailatul Ijtima tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi telah menjadi bagian dari tradisi keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat.
Dilaksanakan Setiap Malam 15 Qomariyah
Lailatul Ijtima NU Ranting Kesuben dilaksanakan secara rutin setiap malam tanggal 15 bulan Qomariyah. Pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran di berbagai masjid dan musholla agar kegiatan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Pola pelaksanaan secara bergilir tersebut memiliki makna penting. Selain mempererat hubungan antarpengurus dan jamaah, kegiatan ini menjadi sarana untuk membangun kedekatan NU dengan masyarakat di tingkat akar rumput.
Setiap pelaksanaan Lailatul Ijtima diisi dengan rangkaian kegiatan keagamaan, antara lain pembacaan istighotsah dan tahlil, dilanjutkan dengan sambutan atau penyampaian pesan ke-NU-an dari pengurus NU Ranting.
Melalui rangkaian tersebut, jamaah diajak untuk bersama-sama mendoakan para ulama, para pendiri dan pejuang NU, keluarga yang telah meninggal dunia, serta memohon keberkahan, keselamatan, dan kemaslahatan bagi masyarakat.
Menjaga Tradisi Keagamaan NU
Bagi NU, tradisi istighotsah, tahlil, doa bersama, dan majelis keagamaan bukan sekadar kegiatan seremonial. Tradisi tersebut menjadi salah satu media untuk merawat hubungan spiritual sekaligus memperkuat ikatan sosial masyarakat.
Lailatul Ijtima juga menjadi ruang bertemunya berbagai unsur masyarakat. Pengurus NU, Banom, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga dapat duduk bersama dalam suasana yang penuh kekeluargaan.
Dalam konteks kehidupan masyarakat yang terus mengalami perubahan, keberadaan majelis seperti Lailatul Ijtima memiliki peran penting sebagai ruang untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan.
Penguatan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah
Salah satu tujuan utama pelaksanaan Lailatul Ijtima adalah penguatan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Penguatan aqidah tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi keagamaan, tetapi juga melalui pembiasaan amaliyah yang telah menjadi bagian dari tradisi keagamaan masyarakat NU. Istighotsah, tahlil, doa bersama, silaturahmi, dan pengajian menjadi sarana untuk membangun pemahaman keagamaan yang berkelanjutan.
Pengurus NU Ranting Kesuben berupaya agar kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai rutinitas bulanan. Lebih dari itu, Lailatul Ijtima diharapkan mampu menjadi media pendidikan keagamaan masyarakat, terutama dalam menanamkan nilai tawasuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai tersebut penting untuk membentuk masyarakat yang memiliki pemahaman agama yang kuat sekaligus mampu hidup berdampingan secara damai di tengah keberagaman.
Memperkuat Silaturahmi Warga
Selain aspek keagamaan, Lailatul Ijtima juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Pertemuan yang dilaksanakan secara rutin memungkinkan warga dari berbagai lingkungan untuk saling mengenal dan mempererat silaturahmi.
Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan yang sederhana, tetapi memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat. Warga tidak hanya bertemu dalam kegiatan sosial, tetapi juga dipertemukan dalam satu majelis untuk berdoa dan beribadah bersama.
Dengan demikian, Lailatul Ijtima dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah di tengah masyarakat.
Merawat Tradisi, Menguatkan Organisasi
Pelaksanaan Lailatul Ijtima secara bergilir di masjid dan musholla juga memperlihatkan upaya NU Ranting Kesuben untuk membangun organisasi yang dekat dengan masyarakat.
Kehadiran pengurus NU dan Banom secara langsung di tengah warga memberikan ruang komunikasi yang lebih terbuka. Berbagai persoalan sosial-keagamaan yang berkembang di masyarakat dapat menjadi bahan perhatian bersama.
Karena itu, keberadaan Lailatul Ijtima tidak hanya penting sebagai kegiatan rutin, tetapi juga sebagai bagian dari proses kaderisasi sosial dan penguatan kelembagaan NU di tingkat ranting.
Dari Musholla Baitul Muttaqien RW 09, tradisi tersebut kembali diteguhkan: bahwa kekuatan organisasi keagamaan tidak hanya dibangun melalui struktur kepengurusan, tetapi juga melalui keakraban, keteladanan, tradisi keilmuan, dan kedekatan dengan jamaah.
Melalui kegiatan yang dilaksanakan secara istiqamah tersebut, NU Ranting Kesuben berharap Lailatul Ijtima dapat terus menjadi ruang untuk memperkuat keimanan, merawat tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, mempererat silaturahmi, serta membangun kehidupan masyarakat Desa Kesuben yang religius, guyub, dan penuh keberkahan.

