Di Antara Romantisasi Masa Lalu dan Dekonstruksi Radikal: Menemukan Jalan Tengah dalam Membaca Sejarah
Oleh: Aris Munandar
Setiap zaman memiliki cara yang berbeda dalam memandang masa lalunya. Ada masyarakat yang menjadikan sejarah sebagai sumber kebijaksanaan, tetapi tidak sedikit pula yang menjadikannya sebagai alat pembenaran. Di tengah derasnya arus informasi, polarisasi politik, dan pertarungan identitas, sejarah semakin sering diperlakukan bukan sebagai ruang belajar, melainkan sebagai arena perebutan makna. Akibatnya, muncul dua kecenderungan yang sama-sama problematis: glorifikasi tanpa kritik yang meromantisasi masa lalu sebagai era yang nyaris tanpa cela, dan dekonstruksi radikal yang memandang seluruh warisan masa lalu sebagai sumber ketidakadilan yang harus dibongkar habis-habisan.
Kedua kutub tersebut tampak berseberangan, tetapi sesungguhnya memiliki akar persoalan yang sama. Keduanya sama-sama gagal melihat sejarah sebagai realitas yang kompleks. Yang satu mengubah sejarah menjadi mitos, sementara yang lain mereduksinya menjadi daftar panjang kesalahan. Dalam keduanya, nuansa hilang, konteks diabaikan, dan kebijaksanaan terkalahkan oleh hasrat untuk membenarkan posisi ideologis.
Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam diskursus akademik, tetapi juga merambah kehidupan sehari-hari. Di media sosial, perdebatan tentang tokoh, tradisi, agama, maupun bangsa sering kali berlangsung tanpa kesediaan memahami konteks sejarah. Tokoh-tokoh masa lalu dipuja layaknya manusia sempurna, atau sebaliknya dihakimi menggunakan standar moral masa kini tanpa mempertimbangkan ruang dan waktu tempat mereka hidup. Yang lahir bukan pemahaman, melainkan penghakiman.
Dalam tradisi filsafat, sejarah tidak pernah dipahami sebagai kumpulan peristiwa yang berdiri sendiri. Sejarah adalah proses dialektis yang memperlihatkan bagaimana manusia terus belajar melalui keberhasilan sekaligus kegagalannya. Karena itu, membaca sejarah membutuhkan kerendahan hati intelektual. Tidak ada zaman yang sepenuhnya gelap, tetapi juga tidak ada zaman yang benar-benar terang. Peradaban selalu bergerak melalui ketegangan antara nilai, kepentingan, dan perubahan sosial.
Sikap meromantisasi masa lalu pada dasarnya merupakan bentuk nostalgia yang kehilangan daya kritis. Nostalgia memang memiliki fungsi psikologis; ia memberi rasa aman ketika masyarakat menghadapi ketidakpastian. Namun, nostalgia berubah menjadi persoalan ketika ia menjelma menjadi ideologi. Masa lalu dipilih hanya pada bagian-bagian yang indah, sementara kemiskinan, konflik, diskriminasi, penyalahgunaan kekuasaan, dan berbagai kegagalan disembunyikan dari ingatan kolektif.
Dalam kondisi demikian, sejarah tidak lagi menjadi guru kehidupan, melainkan propaganda. Setiap kritik dianggap sebagai penghinaan terhadap tradisi. Setiap perubahan dicurigai sebagai ancaman terhadap identitas. Masyarakat akhirnya lebih sibuk mempertahankan citra masa lalu daripada menyelesaikan persoalan masa kini.
Sebaliknya, dekonstruksi radikal juga menyimpan persoalan yang tidak kalah serius. Semangat membongkar narasi dominan memang penting agar sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang berkuasa. Akan tetapi, ketika dekonstruksi berubah menjadi kebiasaan menolak seluruh warisan masa lalu, ia kehilangan orientasi emansipatorisnya. Tradisi diperlakukan sebagai beban, agama dianggap semata-mata instrumen dominasi, dan seluruh tokoh diposisikan sebagai pelaku penindasan.
Cara pandang seperti ini justru menciptakan bentuk dogmatisme baru. Jika glorifikasi melahirkan kultus, maka dekonstruksi yang berlebihan melahirkan sinisme. Keduanya sama-sama menutup pintu dialog. Yang satu menganggap semua kritik sebagai ancaman, sementara yang lain menganggap semua warisan sebagai kesalahan.
Dalam perspektif sosiologi, memori kolektif selalu dibentuk melalui proses seleksi. Tidak ada masyarakat yang mengingat seluruh sejarahnya secara utuh. Yang dipilih untuk diingat biasanya adalah peristiwa yang dianggap memperkuat identitas bersama. Persoalannya muncul ketika seleksi tersebut berubah menjadi manipulasi. Sejarah dijadikan instrumen politik, sementara fakta-fakta yang tidak sesuai dengan kepentingan kelompok disingkirkan.
Masyarakat yang sehat membutuhkan memori kolektif yang jujur. Kejujuran berarti berani mengakui keberhasilan tanpa menutup mata terhadap kegagalan. Bangsa yang matang bukanlah bangsa yang tidak pernah salah, melainkan bangsa yang mampu belajar dari kesalahannya.
Perspektif Islam menawarkan jalan yang lebih seimbang. Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia berjalan di muka bumi untuk memperhatikan bagaimana perjalanan umat-umat terdahulu. Ajakan tersebut bukan untuk memuja masa lalu ataupun mencacinya, melainkan mengambil ibrah—pelajaran yang melahirkan hikmah. Kisah para nabi pun tidak disampaikan sebagai cerita tentang manusia yang hidup tanpa tantangan sosial. Sebaliknya, Al-Qur’an memperlihatkan pergulatan mereka menghadapi kekuasaan yang zalim, masyarakat yang menolak perubahan, hingga kelemahan-kelemahan manusia yang selalu menyertai perjalanan sejarah.
Islam juga menolak kultus terhadap manusia. Tidak ada tokoh selain para nabi yang terbebas dari kemungkinan salah. Para ulama klasik mengajarkan bahwa pendapat siapa pun dapat diterima ataupun ditolak selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran. Tradisi keilmuan Islam dibangun di atas budaya kritik yang beradab, bukan pemujaan yang membutakan ataupun penolakan yang serampangan.
Di sisi lain, Islam juga tidak mengenal nihilisme sejarah. Tradisi bukan sesuatu yang otomatis harus ditinggalkan hanya karena berasal dari masa lalu. Kaidah yang dikenal luas dalam khazanah pemikiran Islam menyatakan bahwa menjaga nilai-nilai lama yang masih baik harus berjalan beriringan dengan mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Prinsip ini menunjukkan bahwa perubahan tidak identik dengan pemutusan total terhadap akar sejarah.
Di sinilah letak relevansi konsep wasathiyah atau jalan tengah. Moderasi bukanlah sikap kompromistis yang menghindari kebenaran, melainkan kemampuan menempatkan sesuatu secara proporsional. Sejarah perlu dibaca secara kritis, tetapi kritik tidak boleh menghapus penghargaan terhadap jasa. Sebaliknya, penghormatan kepada tradisi tidak boleh menghilangkan keberanian mengoreksi kekeliruan.
Dalam konteks Indonesia, pelajaran ini menjadi sangat penting. Bangsa yang majemuk membutuhkan narasi sejarah yang mampu menyatukan, bukan memecah belah. Kita memerlukan keberanian untuk mengakui luka sejarah tanpa menjadikannya bahan bakar kebencian antargenerasi. Kita juga memerlukan kebijaksanaan untuk menghargai warisan para pendahulu tanpa menganggap mereka sebagai sosok yang sempurna.
Tantangan terbesar abad ini bukanlah kekurangan informasi, melainkan kehilangan kebijaksanaan dalam menafsirkan informasi. Kita hidup di zaman ketika potongan sejarah dapat dipisahkan dari konteksnya, disebarluaskan dalam hitungan detik, lalu dijadikan dasar untuk menghakimi individu maupun kelompok. Algoritma media sosial memperkuat kecenderungan tersebut dengan lebih sering menampilkan narasi yang ekstrem daripada yang bernuansa.
Karena itu, literasi sejarah harus dibangun di atas etika intelektual. Setiap generasi perlu belajar bahwa memahami lebih sulit daripada menghakimi, dan bahwa keadilan menuntut keberanian melihat keseluruhan, bukan sekadar fragmen yang mendukung keyakinan kita.
Pada akhirnya, sejarah bukanlah museum untuk menyimpan nostalgia, tetapi laboratorium untuk membangun masa depan. Ia mengajarkan bahwa setiap peradaban memiliki cahaya sekaligus bayangan. Tidak ada generasi yang sepenuhnya benar, tetapi juga tidak ada generasi yang sepenuhnya gagal. Yang membedakan masyarakat maju dari masyarakat yang terus mengulang kesalahan adalah kemampuannya mengubah pengalaman sejarah menjadi kebijaksanaan.
Maka, jalan yang paling arif bukanlah tenggelam dalam romantisasi masa lalu ataupun larut dalam dekonstruksi radikal. Jalan yang lebih menjanjikan adalah membangun kesadaran historis yang kritis, adil, dan rendah hati. Kesadaran yang menghormati warisan tanpa terbelenggu olehnya, serta berani melakukan pembaruan tanpa tercerabut dari akar nilai.
Sebab, peradaban tidak dibangun oleh mereka yang memuja sejarah, juga bukan oleh mereka yang membencinya. Peradaban dibangun oleh mereka yang mampu berdialog dengan sejarah, mengambil hikmah darinya, lalu melangkah ke depan dengan akal yang jernih, hati yang rendah, dan komitmen yang teguh terhadap keadilan serta kemaslahatan bersama.

