Advertisement
Home » Gen Z Dan Budaya Status Quo

Gen Z Dan Budaya Status Quo

Gen-Z dan budaya Status Quo

Budaya-budaya mainstream entah itu yang tercipta dari asimilasi agama,politik,sosial, hukum yang statusnya tidak bisa dirubah/ atau telah terpahat menjadi suar peradaban sekarang mempunyai lawan seimbang.Sebuah fenomena puncak yang terbentuk dari zaman,dari persilangan teknologi dan antropologi menjadi satu kekuatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata.Karena daya konstruktif dan destruktifnya relatif seimbang dan bergerak tanpa harus ada trigger.Iyah betul gelombang itu bernama Gen-Z.

Gen Z menjadi puncak dari mata rantai peradaban manusia.Mereka fleksibel tapi rigid(kaku),mereka bisa terstruktur tapi bisa sangat liar(free Will),bisa kuat sekali secara organisatoris namun di lain pihak sangat rapuh secara mental dan psikis.Ciri khusus dari gerakan mereka adalah tidak terkondisikan yakni bergerak sangat cepat, cenderung reaksioner,dan sangat jarang memikirkan implikasi yang akan terjadinya setelahnya.
Dalam kaitan ini Gen-Z ibarat pisau tajam bermata dua yang aktif membelah dan mengikuti tren yang terupdate untuk melakukan narasi dan kontra narasi.

Hal paling memungkinkan yang bisa dilakukan oleh gen Z dengan kondisi seperti itu adalah mendobrak status quo budaya.Apa status quo budaya yakni kondisi yang mana suatu kebiasaan yang telah dilakukan berulang-ulang bertahun -tahun yang tanpa bisa dikritisi dan menjadi kebenaran mutlak tanpa bisa diganggu gugat.Banyak sekali contohnya padahal dalam konteks tertentu harus ada evaluasi,revisi bahkan dikonversi ke suatu yang baru sesuai dengan relevansi yang sesuai ruang dan waktunya.

Namun demikian,alih alih melakukan reformasi yang dibutuhkan gen Z terjebak dalam labirin kebingungan.Mereka terjebak oleh dunia yang mereka bangun dengan adat dan kebiasannya sendiri.Mereka sibuk dengan citra palsu,validasi semu,dan ketergantungan akan lampu sorot kamera yang menyilaukan dirinya.Sehingga dunia menjadi lebih gelap dari mode yang diterapkan di hapenya.Jadilah mereka bertatapan kosong,senyum yang tidak lepas,dan tertawa tanpa mendengar gema,dan pikiran dan jiwa fatigue(kelelahan) sehingga berjalan laiknya zombie yang tidak jelas arah tujuannya.

Silent Majority: Segregasi Modal Kultural dengan Modal Sosial

Dengan kendali penuh akan dunia yang dibangunnya sendiri mereka lepas kontrol,lepas kendali dan mencium bau anyir informasi untuk melakukan reaksi yang tanpa ada pikiran dan konsiderasi lagi.
Jadilah setiap waktu berita viral menjadi konsumsinya,yang seakan dapat didaur ulang untuk ditambahi muatan kontennya,bahkan dipotong sesuai dengan persepsinya tanpa ada Tedeng alih-alih supaya mendapatkan POV dan algoritma yang dikehendakinya.
Zombie zombie gen Z berkeliaran meraung mencari korban untuk memenuhi dahaga validasi dan konsums untuk melanjutkan eksistensinya.

Dampak konstruktif yang dapat dipenuhi oleh gen Z tentu banyak sekali.Tanpa ada konduktor mereka mampu melahirkan inovasi baru,penemuan baru yang memungkin dunia semakin maju,bahkan menciptakan bentuk sanksi sosial yang tidak mungkin dilakukan oleh generasi sebelumnya yakni Cancel Culture.
Cancel culture yang diinisiasi oleh genz begitu efektif,begitu tepat sasaran jadi seorang atau kelompok yang terkena bidikannya jangankan bergerak dan muncul lagi dipermukaan untuk sekedar bersuara saja sudah langsung diboikot dan dibuang ke liang lahatnya.

Dan untuk menanggulangi serta berkolaborasi dengan mereka tentunya harus menyelaraskan dengan sistem yang dipakai oleh mereka.
Mereka membangun narasi maka jangan langsung dilakukan kontra narasi,bukan hanya akan menambah kegaduhan juga semakin menjauhkan.Maka yang perlu dilakukan adalah bersinergi,menjadi mereka tanpa menghilangkan karakter dan nilai-nilai yang menjadi pegangan utama baik yang bersumber dari agama atau dari yang lainnya.
Bekerjasama dengan mereka harusnya menjadi keniscayaan karena mereka lah generasi yang akan mewarisi bumi dan seisinya,kita sekedar memberi rambu2nya.
Gen Z adalah tantangan sekaligus peluang jika mampu memanfaatkan keberdayaannya maka kita mendapatkan kemanfaatan yang dapat berguna,jika kita menyingkirkan peran dan eksistensi mereka jangan salahkan jika mereka menyedot darah kita semua.

Wallahu a’lam Bishawab
Aris Budayawan

Gus Rozin: Peningkatan Kapasitas Guru Modal Utama Pendidikan Berkualitas

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *