Dalam beberapa dekade terakhir, kosakata dunia psikologi pop berkembang pesat dan merangsek ke dalam diskursus sehari-hari. Salah satu istilah yang paling diagungkan adalah resiliensi—sebuah konsep yang merujuk pada kemampuan adaptif individu untuk pulih, bertahan, dan bangkit kembali dari trauma, tekanan, atau kehancuran finansial dan emosional. Namun, di balik glorifikasi massal ini, tersimpan sebuah fenomena sosial yang mengkhawatirkan: romantisasi resiliensi. Rasa sakit tidak lagi dipandang sebagai alarm atas rusaknya sistem, melainkan komoditas estetis dan tolok ukur moral kelayakan seseorang untuk sukses.
Narasi urban kontemporer kerap disesaki oleh kisah-kisah heroik tentang para pelaku usaha mikro yang berhasil bertahan di tengah badai inflasi, atau buruh komuter yang menempuh perjalanan empat jam sehari demi upah minimum tanpa pernah mengeluh. Di media sosial, cerita semacam ini dikemas dengan musik latar yang menggugah emosi, lengkap dengan kutipan mutiara dari para motivator terkemuka. “Apa yang tidak membunuhmu akan membuatmu lebih kuat,” demikian dalih klasiknya. Tanpa disadari, publik sedang dipandu untuk mengagumi penderitaan itu sendiri, bukan mempertanyakan mengapa penderitaan itu harus ada sejak awal.
Secara esensial, resiliensi adalah mekanisme pertahanan psikologis yang valid dan sangat dibutuhkan manusia. Tanpa kapasitas untuk pulih, umat manusia akan tenggelam dalam keputusasaan kolektif setiap kali menghadapi krisis. Kendati demikian, komodifikasi istilah ini di dalam ekosistem budaya kerja modern (hustle culture) dan kapitalisme lanjut telah menggeser maknanya. Resiliensi kini bukan lagi sekadar jaring pengaman emosional personal, melainkan sebuah tuntutan struktural di mana beban kegagalan sebuah sistem dibebankan sepenuhnya ke pundak individu.
Komersialisasi Rasa Sakit dan Korporatisasi Kesehatan Mental
Pergeseran ini terlihat jelas dalam bagaimana industri modern merespons isu kesehatan mental di tempat kerja. Ketika tingkat kejenuhan kerja (burnout) meningkat drastis akibat target korporasi yang tidak realistis dan jam kerja yang eksploitatif, solusi yang ditawarkan sering kali bukanlah pembenahan manajemen atau restrukturisasi beban kerja. Sebaliknya, perusahaan lebih memilih mengadakan seminar motivasi, kelas yoga kilat, atau pelatihan resiliensi bagi para karyawannya.
Pendekatan ini secara halus menanamkan doktrin bahwa jika seorang pekerja merasa stres atau ambruk di bawah tekanan, maka letak kesalahannya ada pada ketahanan mental individu tersebut yang rapuh, bukan pada sistem kerja yang tidak manusiawi. Karyawan dituntut untuk memiliki kulit yang lebih tebal dan mental yang lebih baja, sementara akar permasalahannya dibiarkan langgeng tanpa tersentuh. Ini adalah bentuk victim-blaming (menyalahkan korban) terselubung yang dibungkus dalam jargon pemberdayaan diri.
“Ketika ketangguhan individu dipuja secara berlebihan, masyarakat perlahan-lahan kehilangan sensitivitasnya terhadap ketidakadilan struktural. Kita sibuk mencetak manusia tangguh, tanpa pernah memperbaiki lingkungan yang merusak mereka.”
Dampak Psikososial: Normalisasi Penderitaan dan Kemandirian Ekstrem
Dampak dari romantisasi ini meluas jauh ke luar lingkungan kantor. Di ranah sosial, ia melahirkan apa yang disebut para pakar sebagai toxic positivity (positivitas beracun). Individu yang sedang mengalami kedukaan, kebangkrutan, atau kekerasan domestik dipaksa untuk segera menemukan “hikmah” dan beralih ke fase pemulihan secepat mungkin. Ruang untuk berduka, marah, dan merasa rentan dipersempit oleh tuntutan sosial untuk selalu terlihat tegar.
Lebih jauh lagi, fenomena ini memicu kondisi hyper-independence atau kemandirian ekstrem. Karena terbiasa mendengar bahwa kesuksesan sejati hanya dicapai melalui perjuangan berdarah-darah secara mandiri, banyak orang memandang tindakan meminta bantuan sebagai bentuk kelemahan atau cacat karakter. Mereka memilih untuk menanggung beban psikologis yang masif sendirian hingga akhirnya jatuh sakit secara kronis, baik fisik maupun mental. Hubungan sosial yang seharusnya bersifat saling menopang (interdependence) terkikis oleh ego kolektif yang menuntut kemandirian mutlak.
Membedakan Batas: Resiliensi yang Sehat versus Resiliensi yang Diromantisasi
Untuk menghentikan siklus destruktif ini, penting bagi masyarakat dan pembuat kebijakan untuk membedakan dengan tegas antara kapasitas adaptif yang sehat dengan indoktrinasi ketahanan yang dipaksakan. Berikut adalah dikotomi fundamental di antara keduanya:
Fokus Utama
Resiliensi Sehat: Berfokus pada pemulihan kesejahteraan emosional, pemrosesan trauma secara utuh, dan pengembalian fungsi hidup.
Romantisasi: Mengejar validasi eksternal, performativitas kekuatan (“tampilan luar yang kuat”), dan pemeliharaan produktivitas ekonomi demi sistem.
Validasi Emosi
Resiliensi Sehat: Mengakui bahwa rasa sakit, lelah, dan sedih adalah respons manusiawi yang valid dan membutuhkan jeda.
Romantisasi: Menuntut penekanan emosi negatif demi segera bangkit dan memamerkan proses “transformasi” diri ke publik.
Batasan Diri
Resiliensi Sehat: Memahami batas kemampuan personal dan secara aktif mencari dukungan sosial atau profesional.
Romantisasi: Menolak bantuan eksternal karena menganggap penderitaan sendirian sebagai standar moral tertinggi.
Respons Terhadap Sistem
Resiliensi Sehat: Mendorong perbaikan lingkungan (regulasi, kebijakan, dukungan komunitas) agar krisis yang sama tidak berulang.
Romantisasi: Melanggengkan status quo yang timpang dengan dalih bahwa penderitaan adalah “ujian karakter” semata.
Mengembalikan Hak untuk Menjadi Rentan
Menolak romantisasi resiliensi bukan berarti mendidik generasi menjadi rapuh atau mudah menyerah. Menolak romantisasi ini berarti menuntut pengembalian kemanusiaan kita secara utuh. Manusia bukanlah mesin yang dirancang untuk terus bekerja di bawah tekanan ekstrem tanpa batas tanpa pernah mengalami kerusakan mekanis.
Resiliensi seharusnya diposisikan sebagai fungsi darurat—bagaikan kantong udara (airbag) pada kendaraan yang mengembang saat benturan keras terjadi demi menyelamatkan nyawa, bukan sebagai bahan bakar harian yang terus-menerus dibakar untuk menjalankan kendaraan. Sudah saatnya diskursus publik dialihkan dari sekadar mengagumi kehebatan korban dalam bertahan hidup, menjadi desakan kolektif untuk meruntuhkan atau memperbaiki sistem yang terus-menerus mengorbankan mereka.
Masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang diisi oleh individu-individu robotik yang mampu menahan penderitaan tanpa akhir. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memiliki empati struktural; sebuah lingkungan yang tahu kapan harus mengulurkan tangan, berani mengevaluasi ketimpangan, dan memberikan hak penuh bagi setiap anggotanya untuk merasa lelah, beristirahat, serta menjadi manusia yang rentan tanpa rasa takut dihakimi.

