Home » Menjemput Kemanfaatan, Meruntuhkan Menara Gading Kebenaran

Menjemput Kemanfaatan, Meruntuhkan Menara Gading Kebenaran

Oleh: Aris Budayawan 

​Sejarah peradaban manusia adalah sejarah pencarian yang tidak pernah usai. Sejak fajar kesadaran ditiupkan, kita dididik untuk memburu apa yang disebut sebagai “Kebenaran Sejati”. Kita mencarinya di puncak-puncak gunung sunyi, di dalam lembar-lembar kitab tebal, hingga di ruang-ruang seminar yang penuh dengan argumen akademis. Namun, mari kita tengok sejenak ke luar jendela: di saat para elite pemikir sibuk bertengkar tentang definisi keadilan, seorang ibu di pinggiran kota sedang bingung bagaimana membeli beras besok pagi. Di titik inilah, pencarian kebenaran sering kali jatuh menjadi sebuah absurditas yang egois.

​Albert Camus, pemikir eksistensialis, pernah mengingatkan bahwa absurditas lahir ketika hasrat manusia untuk mencari makna bertabrakan dengan semesta yang diam. Ironisnya, manusia modern justru menciptakan absurditasnya sendiri. Kita menghabiskan energi kolektif bangsa—waktu, pikiran, bahkan kedamaian sosial—hanya untuk memperdebatkan kebenaran teoretis, dogma kelompok, dan sekat-sekat ideologi. Kita mendirikan menara gading kebenaran yang begitu tinggi, tetapi lupa bahwa di bawah menara itu, realitas sosial sedang mengering.

​Ketika energi habis untuk berdebat tentang siapa yang paling benar, kita secara sadar sedang mengabaikan dua hal yang jauh lebih mendesak: kebaikan (goodness) dan kemanfaatan (utility).

​Ilusi Kebenaran Tunggal dan Kritik Al-Qur’an

​Mengapa pencarian kebenaran sejati teoretis sering kali absurd? Karena di panggung dunia yang fana ini, kebenaran spekulatif sering kali menjelma menjadi sesuatu yang multitafsir dan dikomandani oleh ego masing-masing kepala. Apa yang dianggap benar oleh kelompok A, bisa jadi adalah kesesatan bagi kelompok B. Ketika kebenaran dogmatis ini dipaksakan untuk menjadi tunggal dan mutlak di ranah sosial, yang lahir bukanlah kedamaian, melainkan polarisasi, penghakiman, dan konflik.

Model Keserakahan Terpimpin: Ketika Demokrasi Menjadi Arena Akumulasi Kepentingan

​Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam tradisi Islam, Al-Qur’an secara spesifik pernah mengkritik perilaku kaum yang terjebak dalam perdebatan teologis yang tidak berujung namun miskin amal nyata. Salah satunya terekam dalam Surah Al-Baqarah ayat 113, yang menggambarkan bagaimana kelompok-kelompok keagamaan di masa lalu saling mengklaim kepemilikan mutlak atas kebenaran: “Orang-orang Yahudi berkata, ‘Orang-orang Nasrani itu tidak memiliki pendirian’, dan orang-orang Nasrani berkata, ‘Orang-orang Yahudi tidak memiliki pendirian’, padahal mereka membaca Al-Kitab.”

​Ayat ini adalah sebuah kritik tajam terhadap “egoisme kebenaran” (truth claim). Ketika teks-teks suci atau teori-teori adiluhung hanya dijadikan senjata untuk menegasikan orang lain, manusia sebenarnya sedang terjebak dalam kesia-siaan yang absurd. Mereka sibuk memahat definisi Tuhan dan kebenaran di atas langit, sementara perintah-Nya untuk menegakkan keadilan dan mengasihi sesama di bumi justru diabaikan.

​Hari ini, riuh rendah digital kita dipenuhi oleh replika perilaku tersebut. Media sosial kita bising oleh orang-orang yang merasa memegang kunci kebenaran universal, saling serang, dan saling merendahkan. Namun, apa dampak konkret dari keriuhan itu bagi perbaikan kualitas hidup manusia? Nyaris nol. Kebenaran yang didebatkan tanpa henti itu kehilangan rohnya; ia menjadi berhala baru yang justru menjauhkan manusia dari manusia lainnya.

​Khairunnas: Membumikan Kebenaran melalui Kemanfaatan

​Di sinilah kita membutuhkan sebuah pemberhentian darurat (emergency brake) untuk kesadaran kita. Kita perlu sadar bahwa terjebak dalam labirin perdebatan abstrak adalah bentuk pelarian dari tanggung jawab realitas. Islam, melalui konsep Maqashid asy-Syari’ah (tujuan-tujuan luhur syariat), sebenarnya telah meletakkan fondasi yang sangat kuat bahwa agama diturunkan bukan untuk memperumit perdebatan metafisika, melainkan untuk menjaga kemaslahatan manusia (jalb al-mashalih).

Memugar Keaslian: Dekonstruksi, Kreativitas, dan Tantangan Menafsirkan Ulang Tradisi di Era Disrupsi

​Kebaikan dan kemanfaatan adalah bentuk kebenaran yang paling jujur karena dampaknya bisa langsung diraba. Kita tidak perlu menunggu seluruh manusia di bumi ini sepakat tentang satu ideologi atau satu tafsir agama untuk mulai berbuat baik. Kita tidak perlu berdebat tentang hakikat metafisika air untuk sepakat bahwa menyediakan akses air bersih bagi desa yang kekeringan adalah sebuah keharusan.

​Nabi Muhammad SAW memberikan sebuah aksioma universal yang sangat benderang dalam sebuah hadis yang sangat populer: “Khairunnas anfa’uhum linnas”—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Perhatikan bahwa subjek di ujung hadis tersebut menggunakan kata linnas (bagi manusia secara universal), bukan hanya bermanfaat bagi kelompoknya, sukunya, atau yang seiman saja.

​Pesan ini mengandung pencerahan mendalam: derajat kemuliaan kita tidak diukur dari seberapa panjang dahi kita berkerut memikirkan teori atau seberapa fasih kita berdebat, melainkan seberapa besar sisa hidup kita dikonversi menjadi kemanfaatan nyata bagi kemanusiaan. Kemanfaatan memiliki sifat inklusif; ia meruntuhkan dinding ego. Ketika kita fokus pada kemanfaatan—membuka lapangan kerja, memperbaiki kualitas pendidikan, atau menyembuhkan yang sakit—kita sedang mempraktikkan kebenaran yang hidup.

​Pencerahan di Ruang Nyata

​Memilih fokus pada kebaikan dan kemanfaatan bukan berarti kita menjadi manusia yang dangkal atau anti-intelektual. Ini adalah bentuk kedewasaan berpikir. Ini adalah kesadaran tertinggi bahwa batas kemampuan akal manusia untuk merengkuh seluruh rahasia “Kebenaran Mutlak” itu ada batasnya. Menyadari keterbatasan itu, lalu mengalihkan seluruh sisa energi kita untuk menanam kebaikan, adalah tindakan yang sangat rasional.

Psikologi Tribalisme: Ketika Identitas Menaklukkan Akal

​Sains, teknologi, filsafat, bahkan agama, dibentuk bukan agar manusia terisolasi dalam perdebatan tanpa ujung, melainkan agar perangkat-perangkat itu bisa diturunkan ke bumi menjadi solusi atas penderitaan manusia. Kesalahan terbesar kita selama ini adalah menganggap bahwa berdiskusi dan berdebat sudah sama nilainya dengan melakukan perubahan. Dalam Al-Qur’an, iman hampir selalu digandengkan dengan amal saleh (alladzina amanu wa ‘amilush-shalihat). Ini adalah penegasan struktural bahwa keyakinan (kebenaran) yang tidak mewujud menjadi aksi nyata (kebaikan) adalah pohon yang mandul.

​Ujian terbesar kemanusiaan kita hari ini bukanlah seberapa fasih kita mempertahankan argumen di ruang debat, melainkan seberapa besar sisa hidup kita memberikan dampak bagi lingkungan sekitar. Kita perlu menyembuhkan diri dari penyakit “mabuk kebenaran teoretis” dan mulai mengobatinya dengan “kerja kemanfaatan”.

​Mari kita runtuhkan menara gading yang absurd itu. Mari kita kembali ke jalan yang lebih realistis. Pada akhirnya, di akhir perjalanan hidup nanti, semesta tidak akan bertanya seberapa banyak perdebatan teoretis yang kita menangkan, melainkan seberapa banyak air mata yang berhasil kita usap dan seberapa banyak maslahat yang sempat kita bagikan. Kebenaran sejati, jika ia memang ada, pastilah berwujud cinta kasih, rahmat, dan kemanfaatan bagi seluruh alam.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *