Lailatul Ijtima PRNU Slarang Kidul: Merajut Doa, Ilmu, dan Khidmah Menyongsong Muktamar
SLARANG KIDUL, 30 Agustus 2026 — Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Slarang Kidul kembali menyelenggarakan Lailatul Ijtima sebagai bagian dari ikhtiar merawat tradisi keagamaan, memperkuat silaturahmi jamaah, sekaligus meneguhkan semangat khidmah dalam kehidupan berjam’iyyah. Kegiatan tersebut berlangsung pada Ahad, 30 Agustus 2026, bertempat di Mushola Miftahusulton, Slarang Kidul.
Lailatul Ijtima kali ini berlangsung dalam suasana penuh kekhidmatan. Tidak hanya menjadi ruang berkumpulnya warga Nahdliyin, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mempertemukan tiga dimensi penting dalam tradisi NU, yakni seni dan budaya, doa dan spiritualitas, serta penguatan keilmuan keagamaan.
Dibuka dengan lantunan Hadroh Fatayat
Rangkaian kegiatan diawali dengan penampilan Grup Hadroh Fatayat NU. Lantunan suara merdu vokalis berpadu dengan simfoni indah tabuhan hadroh, menciptakan suasana religius sekaligus hangat di tengah jamaah yang hadir.
Penampilan tersebut bukan sekadar pembuka acara, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi dakwah kultural yang selama ini tumbuh dan berkembang di lingkungan Nahdlatul Ulama. Seni hadroh menjadi salah satu media untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus menghadirkan suasana batin yang lebih siap memasuki rangkaian ibadah dan pengajian.
Setelah penampilan hadroh, acara kemudian memasuki agenda utama yang dipandu oleh MC, Ustaz Syehudin.
Rangkaian acara secara resmi dimulai dengan pembacaan Surah Al-Fatihah, sebagai bentuk tawassul dan permohonan keberkahan kepada Allah SWT. Setelah itu, jamaah bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Subhanul Wathan.
Paduan suara jamaah dalam menyanyikan kedua lagu tersebut menghadirkan pesan penting bahwa kecintaan kepada agama dan kecintaan kepada tanah air merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi kebangsaan Nahdlatul Ulama.
Istighotsah untuk Muktamirin dan Jamaah Nahdliyin
Memasuki acara inti, jamaah mengikuti istighotsah bersama yang dipimpin oleh Rois Syuriah PRNU Slarang Kidul, Kiai Jelani.
Istighotsah dilaksanakan dengan penuh kekhusyukan. Doa-doa dipanjatkan dengan sejumlah niat, terutama untuk mendoakan para muktamirin, mendoakan seluruh jamaah Nahdliyin, serta memohon keberkahan atas berbagai ikhtiar yang sedang dilakukan.
Doa juga menjadi bentuk penguatan spiritual agar setiap usaha yang dilakukan untuk kemaslahatan jam’iyyah senantiasa mendapatkan pertolongan dan ridha Allah SWT.
Dalam suasana menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, momentum tersebut menjadi semakin bermakna. Lailatul Ijtima tidak hanya diposisikan sebagai kegiatan rutin, tetapi juga menjadi ruang spiritual bagi warga Nahdliyin untuk menitipkan harapan melalui doa.
Di tengah berbagai dinamika organisasi, doa menjadi pengingat bahwa perjalanan jam’iyyah tidak semata-mata dibangun melalui gagasan, program, dan keputusan organisatoris, tetapi juga melalui ketulusan niat, keikhlasan berkhidmah, serta kekuatan spiritual jamaah.
Mengaji Fathul Qorib: Menyatukan Tradisi dan Keilmuan
Setelah istighotsah, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan kitab Fathul Qorib yang disampaikan oleh Ustaz Mudrik.
Kajian kali ini membahas persoalan menyucikan kulit bangkai dengan cara menyamaknya (dibag). Materi tersebut menjadi bagian dari pembelajaran fikih yang dekat dengan tradisi keilmuan pesantren dan menjadi salah satu ciri penting dalam kultur keagamaan Nahdlatul Ulama.
Pembacaan Fathul Qorib tidak sekadar menghadirkan pengetahuan mengenai persoalan hukum fikih, tetapi juga menjadi sarana untuk menjaga kesinambungan tradisi intelektual Islam yang diwariskan para ulama dari generasi ke generasi.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, forum seperti Lailatul Ijtima memiliki posisi penting karena menyediakan ruang bagi jamaah untuk tetap bersentuhan dengan khazanah keislaman klasik. Kitab kuning tidak hanya dibaca sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dipelajari untuk memahami bagaimana para ulama menyusun argumentasi, memberikan batasan hukum, dan menjawab persoalan kehidupan secara sistematis.
Dengan demikian, Lailatul Ijtima menjadi ruang yang mempertemukan dzikir dan pikir: jamaah menguatkan hubungan spiritual melalui istighotsah sekaligus menguatkan tradisi intelektual melalui kajian kitab.
Ditutup dengan Pesan Mustasyar
Rangkaian Lailatul Ijtima kemudian ditutup dengan pengarahan dan doa dari Mustasyar PRNU Slarang Kidul, Kiai Arif Yakin.
Penutupan tersebut menjadi bagian akhir dari seluruh rangkaian kegiatan yang sejak awal berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan dan kekhidmatan.
Lailatul Ijtima di Mushola Miftahusulton kembali menunjukkan bahwa kekuatan Nahdlatul Ulama di tingkat ranting tidak hanya bertumpu pada struktur organisasi, tetapi juga pada kekuatan jamaah, tradisi keagamaan, silaturahmi, dan kesinambungan kaderisasi pengetahuan.
Bagi PRNU Slarang Kidul, kegiatan tersebut menjadi salah satu ikhtiar untuk terus menghidupkan ruang-ruang perjumpaan warga Nahdliyin. Sebab, jam’iyyah yang kuat bukan hanya jam’iyyah yang memiliki struktur organisasi yang tertata, tetapi juga jam’iyyah yang mampu menjaga hubungan antara ulama, pengurus, kader, dan jamaah.
Lailatul Ijtima juga mengajarkan bahwa khidmah tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar. Berkumpul di mushola, membaca Al-Qur’an, beristighotsah, mengaji kitab, bershalawat, dan menyambung silaturahmi merupakan bentuk-bentuk sederhana yang apabila dilakukan secara istiqamah dapat menjadi energi besar bagi keberlangsungan jam’iyyah.
Di Mushola Miftahusulton, Ahad malam itu, doa dan ilmu kembali dipertemukan. Hadroh menghidupkan rasa, istighotsah menguatkan doa, sementara Fathul Qorib menjaga tradisi ilmu. Ketiganya menjadi bagian dari ikhtiar kecil untuk merawat Nahdlatul Ulama agar tetap tumbuh dari akar jamaahnya.
Dari ranting, doa dipanjatkan. Dari jamaah, khidmah digerakkan. Dari tradisi, masa depan NU dirawat.

