Home » Lailatul Ijtima PRNU Kesuben: Mengetuk Langit untuk Kelancaran Muktamar NU ke-35

Lailatul Ijtima PRNU Kesuben: Mengetuk Langit untuk Kelancaran Muktamar NU ke-35

Lailatul Ijtima PRNU Kesuben: Mengetuk Langit untuk Kelancaran Muktamar NU ke-35

KESUBEN — Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kesuben kembali meneguhkan tradisi keagamaan dan kebersamaan warga Nahdliyin melalui kegiatan Lailatul Ijtima yang akan dilaksanakan di Masjid An-Nur, RT 05/RW 09, Desa Kesuben.

Kegiatan ini mengusung tema “Mengetuk Langit untuk Kelancaran Muktamar NU ke-35”, sebuah tema yang menyiratkan ikhtiar spiritual warga NU untuk turut mendoakan kelancaran, keamanan, dan keberkahan seluruh rangkaian Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35.

PRNU Kesuben di bawah kepemimpinan Ketua Tanfidziyah, Ustadz Subhi, bersama Rois Syuriah, H. Ahmad Dulbar, menempatkan Lailatul Ijtima bukan sekadar sebagai kegiatan rutin keagamaan. Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi, konsolidasi jamaah, sekaligus membangun kesadaran bahwa perjalanan jam’iyyah NU membutuhkan keseimbangan antara ikhtiar organisatoris dan kekuatan spiritual.

Mengetuk Langit dengan Doa dan Munajat

Perkuat Kemampuan Kader, MDS Rijalul Ansor Lebaksiu Gelar Pelatihan Pemulasaraan Jenazah di Jatimulya

Muktamar merupakan salah satu momentum penting dalam perjalanan organisasi Nahdlatul Ulama. Di dalamnya terdapat proses musyawarah, evaluasi, konsolidasi, sekaligus perumusan arah perjalanan organisasi untuk masa mendatang.

Karena itu, warga Nahdliyin di tingkat ranting pun memiliki ruang untuk mengambil bagian dalam menyukseskannya. Salah satunya melalui doa dan munajat.

Frasa “mengetuk langit” dalam tema Lailatul Ijtima ini menjadi simbol bahwa ikhtiar manusia tidak pernah berdiri sendiri. Ada hal-hal yang harus dipersiapkan secara organisatoris, tetapi ada pula yang harus disandarkan kepada Allah SWT melalui doa, tawakal, dan pengharapan.

Dari sebuah masjid di lingkungan masyarakat, doa-doa warga Nahdliyin dipanjatkan untuk sebuah agenda besar jam’iyyah. Kesederhanaan tempat tidak mengurangi makna dari sebuah munajat. Justru dari ruang-ruang kecil semacam inilah denyut kehidupan NU di akar rumput terus dirawat.

Ansor Jateng Tegaskan Visi Khadimul Ummah di Era Digital

Merawat Tradisi, Memperkuat Jam’iyyah

Lailatul Ijtima merupakan bagian dari tradisi yang memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial-keagamaan warga NU. Pertemuan semacam ini mempertemukan berbagai unsur masyarakat dalam suasana yang cair dan penuh kekeluargaan.

Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin dinamis, ruang perjumpaan seperti Lailatul Ijtima memiliki arti penting. Warga tidak hanya hadir untuk mengikuti rangkaian doa dan ibadah, tetapi juga membangun komunikasi, mempererat persaudaraan, serta memperkuat rasa memiliki terhadap jam’iyyah.

PRNU Kesuben memandang bahwa kekuatan NU pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh struktur organisasi, melainkan juga oleh seberapa kuat hubungan antara pengurus dan jamaah. Organisasi akan memiliki daya hidup apabila tradisi, nilai, dan semangat khidmah terus tumbuh dari bawah.

Lesbumi MWC NU Lebaksiu Kirim Kontingen ke MTQ Nasional 2026, Siap Ukir Prestasi di Kota Semarang

Karena itu, Lailatul Ijtima menjadi salah satu sarana untuk menjaga mata rantai tersebut.

Dari Ranting untuk Muktamar

Muktamar NU ke-35 bukan hanya menjadi perhatian para pengurus di tingkat pusat. Ia juga merupakan bagian dari perjalanan seluruh warga Nahdliyin. Setiap ranting, lembaga, badan otonom, pesantren, masjid, dan komunitas NU memiliki peran dalam menjaga agar momentum tersebut berlangsung dengan baik.

PRNU Kesuben memilih jalur doa sebagai salah satu bentuk kontribusinya.

Doa yang dipanjatkan bukan hanya agar pelaksanaan Muktamar berjalan lancar secara teknis, tetapi juga agar seluruh prosesnya senantiasa berada dalam koridor kemaslahatan, persaudaraan, musyawarah, dan keberkahan.

Harapannya, Muktamar NU ke-35 mampu menjadi momentum konsolidasi jam’iyyah sekaligus menjawab berbagai tantangan zaman dengan tetap berpijak pada khazanah Aswaja An-Nahdliyah.

Sebab, NU tidak hanya membutuhkan keputusan-keputusan organisatoris, tetapi juga membutuhkan kejernihan hati, keluasan pandangan, dan kebijaksanaan dalam menjalankan amanah.

Menyatukan Ikhtiar dan Tawakal

Kegiatan Lailatul Ijtima PRNU Kesuben juga menjadi pengingat bahwa dalam menjalankan organisasi, ikhtiar dan tawakal bukan dua hal yang harus dipertentangkan.

Ikhtiar dilakukan dengan kerja nyata, musyawarah, konsolidasi, dan penguatan organisasi. Sementara doa menjadi bentuk pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan membutuhkan pertolongan Allah SWT.

Dari sinilah tema “Mengetuk Langit” memperoleh maknanya.

Warga berkumpul di masjid, membaca doa, berdzikir, bershalawat, dan memohon kepada Allah SWT. Sebuah ikhtiar sederhana dari masyarakat akar rumput untuk sebuah agenda besar jam’iyyah.

Di bawah kepemimpinan Rois Syuriah H. Ahmad Dulbar dan Ketua Tanfidziyah Ustadz Subhi, PRNU Kesuben berharap Lailatul Ijtima dapat terus menjadi ruang pembentukan spiritualitas jamaah sekaligus penguatan kehidupan jam’iyyah di tingkat ranting.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah organisasi bukan hanya tentang seberapa besar struktur yang dimiliki, tetapi juga tentang seberapa dalam nilai yang hidup di dalamnya.

Dari Masjid An-Nur Kesuben, doa-doa dipanjatkan. Dari ranting, harapan dititipkan. Untuk Muktamar NU ke-35, semoga setiap langkah dimudahkan, setiap musyawarah diberi kejernihan, dan setiap keputusan membawa maslahat bagi umat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.

Mengetuk langit dengan doa, menguatkan bumi dengan khidmah.