Seorang filsuf Yunani kuno, Epictetus, pernah berujar bahwa manusia dianugerahi dua telinga dan satu mulut agar kita bisa mendengar dua kali lebih banyak daripada berbicara. Namun, jika Epictetus hidup di era digital hari ini, ia mungkin akan terkejut melihat realitas yang jungkir balik: masyarakat modern memiliki ribuan panggung untuk berteriak, tetapi hampir kehilangan kapasitas untuk menyimak.
Kita sedang mengalami krisis akut yang masif, yakni hilangnya kemampuan mendengarkan secara kolektif. Gejalanya kasat mata. Di ruang-ruang sidang parlemen, di studio debat televisi, hingga ke kolom komentar media sosial, yang tersisa hanyalah kebisingan. Komunikasi tidak lagi menjadi jembatan pemahaman, melainkan kompetisi monolog di mana tiap pihak hanya sibuk menunggu giliran untuk menyerang balik.
Mengapa masyarakat kita perlahan menjadi “tuli” secara sosial?
Akar masalahnya bersifat struktural. Pertama, kita dikepung oleh ekonomi atensi yang digerakkan oleh algoritma media sosial. Konten singkat, video berdurasi beberapa detik, dan tajuk berita provokatif telah memotong rentang perhatian (attention span) manusia secara drastis. Mendengarkan secara mendalam (active listening) membutuhkan energi mental dan kesabaran—dua komoditas yang kian langka di era serba instan.
Kedua, fenomena ruang gema (echo chamber) di dunia maya membuat kita hanya mau mendengarkan opini yang searah. Kita dikondisikan untuk merasa selalu benar. Akibatnya, otot toleransi kita untuk menyimak perspektif yang berbeda menjadi antropi—menyusut karena jarang digunakan. Perbedaan pendapat tidak lagi dilihat sebagai ruang diskusi, melainkan ancaman yang harus segera dibungkam.
Pesan Langit tentang Etika Mendengar
Jika kita menengok perspektif Islam, krisis kemandekan mendengar ini sebenarnya telah diperingatkan sejak empat belas abad silam. Islam menempatkan aktivitas mendengar (al-sam’u) pada posisi yang sangat terhormat, bahkan lebih dahulu disebut daripada kemampuan melihat (al-bashar) dalam berbagai ayat Al-Qur’an. Ini adalah sebuah pesan tersirat bahwa kedewasaan berpikir seseorang dimulai dari ketajaman telinga dan hatinya dalam menyerap informasi.
Islam secara tegas melarang umatnya menjadi manusia yang “tuli egoistis”. Dalam QS. Al-A’raf ayat 204, bahkan saat Al-Qur’an dibacakan, perintahnya adalah fastami’u lahu wa anshitu—dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat. Konsep anshitu (diam menyimak) bukan sekadar pasif, melainkan sebuah tindakan aktif untuk meredam ego, mengosongkan cawan pikiran, dan memberi ruang bagi kebenaran untuk masuk.
Lebih jauh lagi, dalam tradisi literasi Islam, kegagalan mendengarkan secara objektif adalah ciri masyarakat jahiliyah. Al-Qur’an mengkritik keras orang-orang yang menutup telinga mereka karena kesombongan (QS. Nuh: 7). Ketika masyarakat berhenti mendengar, mereka seumpama makhluk yang kehilangan fungsi kemanusiaannya—memiliki telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar kebenaran.
Dampak Nyata dan Jalan Pulang
Dampak dari runtuhnya budaya menyimak ini tidak main-main bagi keberlangsungan bernegara. Di tingkat horizontal, polarisasi masyarakat menjadi semakin akut. Ketika masyarakat berhenti saling mendengar, empati sosial akan runtuh. Kita menjadi mudah menghakimi, sinis, dan kehilangan kemampuan untuk memahami penderitaan kelompok lain.
Sementara di tingkat vertikal, penguasa yang bebal dan menutup telinga dari kritik akar rumput akan menghasilkan kebijakan publik yang cacat—regulasi yang lahir dari ruang hampa, tuli terhadap kebutuhan nyata rakyatnya.
Menyelamatkan masyarakat dari “tuli sosial” ini memerlukan rekayasa budaya yang serius. Kita harus mulai memperlakukan kemampuan mendengarkan sebagai keterampilan hidup yang krusial (essential life skill). Lembaga pendidikan dan institusi keagamaan perlu menggaungkan kembali fiqih komunikasi yang santun; bahwa berislam yang baik bukan hanya tentang kefasihan berdakwah atau berargumen, melainkan juga tentang kelapangan dada untuk menyimak.
Di tingkat personal, kita perlu melatih diri untuk mengambil jeda digital dan menyediakan ruang bagi keheningan. Mendengarkan bukan berarti menyetujui, melainkan sebuah upaya sadar untuk menghargai manusia lain secara utuh.
Masyarakat yang kehilangan kemampuan mendengar adalah masyarakat yang sedang berjalan menuju keretakan. Jika kita tidak ingin bangsa ini tercerai-berai oleh egoisme suara masing-masing, kita harus berani mengambil satu tindakan radikal yang mulai terlupakan: menurunkan pelantang suara, menahan amarah, dan mulai mendengarkan.
Aris Budayawan
Pengamat sosial dan kebudayaan.

