Advertisement Advertisement
Home » Muslimat NU Didorong Jadi Garda Terdepan Jaga Aswaja dan Literasi Digital Keluarga

Muslimat NU Didorong Jadi Garda Terdepan Jaga Aswaja dan Literasi Digital Keluarga

Yogyakarta, NU Online Jateng

Perempuan, khususnya para ibu yang tergabung dalam Muslimat NU, didorong menjadi garda terdepan dalam memperkuat nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah (Aswaja An-Nahdliyyah) di tengah tantangan era digital. Hal ini mengemuka dalam Seminar Penguatan Aswaja An-Nahdliyyah Harlah Muslimat NU ke-80 di Gedung Al-Azhar Yogyakarta World School, Ahad (26/4/2026).

Wasekjen PBNU Bidang Luar Negeri Safira Machrussah menegaskan bahwa perubahan digital telah mengubah pola tumbuh kembang anak.

“Kalau dulu anak-anak lebih dekat dengan guru ngaji dan lingkungan masjid, sekarang mereka lebih dahulu berjumpa dengan layar dan algoritma. Maka orang tua tidak boleh lengah,” ujarnya.

Ia menilai ruang digital menghadirkan peluang sekaligus ancaman, mulai dari judi online, radikalisme, hingga konten negatif yang mudah diakses anak-anak.

Perangkat Organisasi NU: Lembaga, Banom, Badan Khusus

“Perang hari ini tidak hanya terjadi di dunia fisik, tetapi juga di ruang pikir anak-anak kita. Karena itu, ibu-ibu harus hadir menjadi penjaga gawang utama keluarga,” ungkapnya. Senada dengan itu,

TG Ahmad Rafiq menyoroti kuatnya pengaruh algoritma digital terhadap cara berpikir generasi muda. “Kita sedang menghadapi generasi yang sumber pengetahuannya ada di ruang digital. Apa yang mereka baca, klik, dan tonton akan membentuk cara berpikir mereka,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa proses radikalisasi kini bisa terjadi melalui ruang digital tanpa tatap muka. “Dulu orang belajar dari guru dan lingkungan. Sekarang, dalam hitungan bulan, anak bisa diarahkan oleh algoritma jika tidak didampingi,” tegasnya.

Menurutnya, keluarga harus hadir sebagai ruang dialog, bukan sekadar pengawas. “Kalau rumah tangga kuat, komunikasi orang tua hidup, dan nilai Aswaja tertanam, maka anak-anak kita tidak mudah dibawa arus digital yang menyesatkan,” katanya.

Contoh Usaha Organisasi Nahdlatul Ulama (NU), Apa Saja ?

Sementara itu Ketua Tanfidziyah PWNU DIY KH Ahmad Zuhdi Muhdlor menegaskan bahwa Aswaja bukan sekadar identitas, melainkan sistem berpikir dan tradisi keilmuan yang memiliki sanad jelas. “Di tengah perubahan sosial dan derasnya arus informasi digital, masyarakat perlu memahami kembali hakikat Aswaja secara utuh. Jangan sampai Aswaja hanya menjadi klaim identitas, slogan, atau dipersempit untuk kepentingan politik sesaat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Aswaja dibangun atas tiga pilar utama, yakni fikrah, amaliyah, dan harakah nahdliyyah yang menjadi dasar keseimbangan kehidupan beragama dan bermasyarakat. Selain itu, ia menekankan pentingnya sanad keilmuan di tengah maraknya pembelajaran agama melalui media digital.

“Ilmu bukan hanya soal materi yang dibaca, tetapi juga soal sanad, akhlak, dan keberkahan,” ungkapnya.

Seminar ini menegaskan pentingnya peran Muslimat NU sebagai pendidik utama keluarga dalam membangun literasi digital sekaligus menjaga nilai-nilai Islam moderat di tengah arus globalisasi.

Sambangi PBNU, 23 PWNU Sampaikan Harapan Soal Muktamar ke-35 NU

Editor: Lukman Hakim

Kontributor: Aretha Dhiah Nareswari

Sumber: https://jateng.nu.or.id/regional/muslimat-nu-didorong-jadi-garda-terdepan-jaga-aswaja-dan-literasi-digital-keluarga-sHsSe

___
Download NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap! https://nu.or.id/superapp (Android/iOS)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *