Advertisement
Home » Silent Majority: Segregasi Modal Kultural dengan Modal Sosial

Silent Majority: Segregasi Modal Kultural dengan Modal Sosial


Silent majority: Segregasi Modal Kultural dengan Modal Sosial

 

Sudah dimafhumi bersama bahwa modal kultural dan modal sosial adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya mengakselerasi tujuan yang ingin dicapai.Artinya untuk mempercepat suatu karir,cita-cita ataupun kesuksesan dalam makna tertentu dua modal ini harus berjalan beriringan,tidak bisa saling menafikan,atau mendegradasi satu sama lain.Meskipun demikian, keduanya mempunyai pengecualian, tergantung dari subyek yang memberi pemaknaan.Ada yang cukup modal kultural saja,ataupun cukup dengan modal sosial saja.

Modal kultural misalnya setiap orang yang mempunyai ijazah, sertifikat,skill,dan kemampuan tertentu bisa survive dan berkontestasi dalam kehidupan sesuai dengan passionnya.Bisa melalui suatu instansi tertentu,bisa jalur entrepreneur,bisa juga usaha-usaha yang memungkinkan untuk bisa memaksimalkan potensi dan bakatnya.

Pun demikian dengan modal sosial,bisa juga masuk dalam usaha yang sama seperti modal kultural dengan melalui jalur koneksi, networking,ataupun relasi kuasa yang dimiliki untuk membantu tumbuh kembang karir dan cita-citanya.

Kader Penggerak NU Siap Berkhidmah, PD-PKPNU Lebaksiu Resmi Ditutup dengan Prosesi Baiat

Namun,belakangan ini ada konsepsi dan paradigma baru bahwa modal kultural sudah banyak ditinggalkan.Artinya terjadi segregasi/pemisahan yang begitu dalam modal kultural yang dulu menjadi syarat utama untuk mengembangkan diri dalam karir sudah psimis dilakukan.Paradigma yang berkembang sekarang dalam bahasa sederhana ” Yen ora duwe koneksi maka apapun tidak akan fungsi”.

Secara tidak langsung modal sosial telah mengangkangi dan menguasai dan ini bisa sangat buruk, bisa mengacaukan sistem hierarki, meritokrasi,teknokrasi,bahkan melemahkan mental dan jiwa dalam meningkatkan potensi diri.

Hancurnya Hierarki

Jika modal sosial yang dikedepankan maka secara otomatis memutus mata rantai hierarki.Tidak ada senioritas,tidak ada jalur komando,tidak ada urutan resmi sesuai dengan standar yang ditetapkan.Siapa saja yang punya koneksi dan kedekatan dengan pihak yang punya wewenang dan kuasa maka tidak perlu merintis karir dari bawah,cukup mencari rekomendasi,cukup melabeli diri orang yang paling dekat dan punya pengaruh maka jenjang karir ke atas akan mudah dicapai tanpa melalui step dan tingkatan yang ditentukan.

Dan sistimnya bukan hanya konvensional misalnya Top-down,bisa bottom-up.

Runtuhnya meritokrasi

Jalur koneksi juga bisa membabat sistem yang mengedepankan kapasitas,kapabilitas, profesionalitas.Di sini kemampuan selevel dewapun akan runtuh dihadapan orang yang biasa saja tapi punya koneksi khusus.Suatu program atau kebijakan akan diambil oleh orang yang tidak punya kapasitas apapun,namun,tetap diberikan jika itu merupakan orang terdekatnya.

Maka,jangan heran terjadinya silang-sengkarut,tabrakan,hingga kacau-balaunya peraturan karena sangat mungkin itu dilakukan oleh orang yang tidak punya kapabilitas untuk menghandlenya.

Efek domino dari runtuhnya meritokrasi lagi adalah orang tidak lagi mengasah skillnya,kemampuannya,atau memantaskan diri agar masuk dalam suatu bidang yang dikuasainya.Artinya belajar dengan sungguh-sungguh sebagai mental positif yang harus digalakkan runtuh dalam sekejap oleh suatu persepsi” buat apa belajar pintar-pintar,jika ujungnya yang dapat peran adalah orang yang secara emosional lebih dikenal dan tenar”.

Lalu,apa lagi yang mau diharapkan ketika sudah berjalan demikian,ironinya sudah menjadi madzab bersama alias pikiran mayoritas.

Sirnanya Teknokrasi

 

Hal teknis biasanya hanya dimiliki oleh orang tertentu yang menggeluti bidang tersebut.Misalnnya adalah membangun sebuah bangunan,ini tentu harus ditanggungjawabkan oleh orang yang punya kemampuan itu. Namun,karena koneksi sosial yang menjadi prinsip utama itu bukan lagi menjadi prioritas utama.Katanya,itu pengetahuan yang bisa dipelajari di chanel-chanel tertentu,artinya “ilmu Katon” dengan asumsi yang begitu besar.

Akhirnya,karena dipandegani oleh orang yang tidak ada dasar bidang tertentu hanya karena koneksi saja maka yan

Bikin jalan menjadi proyek abadi yang tidak pernah jelas ujungnya,selalu bongkar pasang tanpa pernah dirasakan hasilnya.Bikin jembatan hanya sebagai upaya flexing dan penghabisan anggaran hasilnya setahun-dua tahun sudah hanyut fisik dan jejaknya.

Membangun apapun hanya sebagai formalitas untuk pelaporan kerja semuanya tidak maksimal,sekedar seremonial dan hasilnya pun asal-asalan.

Jika,teknokrasi sudah sirna,jangankan modal saja yang sirna semuanya pun sirna,kepercayaan,keyakinan,dan keselamatan pun bisa terhempas juga.

Yang menjadi ironi sebenarnya adalah diamnya mayoritas (silent majority).Sudah tahu banyak yang diambil alih orang tidak punya kapasitas tapi seakan mereka diam,dan tidak melakukan apa-apa.Hanya kepasrahan karena merasa bukan tanggungjawabnya,bukan suatu yang merugikan untuk dirinya akhirnya segregasi ini menjalar dan menjadi besar bukan oleh satu masalah namun,karena tidak adanya koreksi dari suara-suara yang seharusnya bersuara.

Tidak ada lagi kontrol yang semestinya menjadi corong untuk mengawal dan memeriksa semuanya diam.Ada yang berani bicara malah kena bully dan menjadi public enemy yang akhirnya hancur jiwa raganya.

Entah siapa yang memulai mempersepsikan bahwa apapun yang bukan wilayahnya itu dilarang komentar.Padahal hidup ini adalah satu kesatuan,apapun yang terjadi bukan hanya masalah satu dua hal saja bisa juga merupakan kesalahan bersama.Artinya setiap apapun harusnya kita berperan tentu dengan proporsionalitasnya masing-masing.

Bukan,semua diam hanya karena tidak langsung berimbas kepada diri,atau tidak merugikan secara materi dan non materi kepada diri.Tentu ini persepsi yang keliru,dan bisa meruntuhkan sistem hidup bersama yang telah menjadi kesepakatan bersama.

Silent majority dengan jumlah yang sekarang signifikan belum terkoordinir dengan baik,bergeraknya bukan karena suatu sistem melainkan karena individu,monumen tertentu dan cenderung random.Padahal powernya begitu besar untuk menentukan jalannya suatu peradaban.Jika keaktifannya sudah dimulai dengan kesadaran akan tanggungjawabnya maka,bisa sekali sebagai kekuatan pembebas dan peletek dasar untuk mengawal kebijakan-kebijakan yang diperuntukkan hajat hidup orang banyak.

Tapi entahlah perubahan itu akan terjadi..silent majority menjadi aware majority(Mayoritas sadar).

Pemikiran terpadu memang dimulai dari individu yang berkesadaran.Individu berkesadaran akan membentuk komunitas yang sadar dan peduli akan sekitar.Komunitas yang sadar akan membentuk mayoritas yang sadar.

Mayoritas sadar adalah idealnya sebuah negeri,sebuah bangsa yang ikut dan terlibat dalam setiap jengkal perubahan bangsanya.

Mungkinkah itu terjadi?

 

Wallahu a’lam Bishawab

Aris Budayawan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *