Kegiatan rutin bulanan Jam’iyah Hujjaj Ziyadatul Khoir kembali berlangsung dengan penuh khidmat dan kekeluargaan pada Ahad akhir bulan, tepatnya tanggal 28 Juni 2026. Kegiatan kali ini diselenggarakan di kediaman Bapak H. Rozikin dan Ibu Hj. Sriningsih dengan dihadiri oleh para jamaah, tokoh masyarakat, serta anggota Jam’iyah Hujjaj yang senantiasa istiqamah mengikuti kegiatan keagamaan sebagai sarana mempererat ukhuwah Islamiyah dan meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.
Acara dimulai dengan pembukaan yang dipandu oleh Hj. Hartati Mulyaningsih selaku petugas pembawa acara. Dengan suasana yang hangat dan penuh kekhidmatan, para jamaah mengikuti rangkaian kegiatan sejak awal hingga akhir dengan penuh antusias. Momentum pertemuan rutin ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antaranggota, namun juga menjadi media memperkuat nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan istighosah dan tahlil yang dipimpin oleh Hj. Thoat. Lantunan dzikir, doa, dan tahlil yang dibaca bersama-sama menghadirkan suasana religius yang menenangkan hati. Para jamaah tampak khusyuk memanjatkan doa kepada Allah SWT agar diberikan keberkahan hidup, kesehatan, keselamatan, serta kemudahan dalam menjalani kehidupan dunia dan akhirat.
Pada sesi doa penutup, KH. Masruri memimpin doa bersama dengan penuh harap dan kekhusyukan. Dalam doanya, beliau memohon agar seluruh jamaah Jam’iyah Hujjaj Ziyadatul Khoir senantiasa diberikan keistiqamahan dalam beribadah, keberkahan rezeki, kesehatan lahir batin, serta menjadi pribadi-pribadi yang dekat dengan Allah SWT. Doa juga dipanjatkan untuk para keluarga jamaah yang telah wafat agar mendapatkan ampunan dan tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Acara semakin bermakna dengan penyampaian Mauidhoh Hasanah oleh KH. Achid. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan tentang keutamaan bulan Muharram sebagai salah satu bulan mulia dalam Islam. KH. Achid menjelaskan bahwa bulan Muharram merupakan momentum penting untuk memperbanyak taubat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Beliau mengisahkan perjalanan Nabi Adam AS dan Nabi Yunus AS yang menjadi teladan dalam bertaubat kepada Allah SWT. Nabi Adam AS memohon ampun setelah melakukan kesalahan, sementara Nabi Yunus AS menyadari dirinya termasuk orang yang dzalim ketika berada dalam perut ikan paus, sebagaimana termaktub dalam doa yang masyhur:
“Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadz dzoolimin.”
Menurut KH. Achid, kisah tersebut menjadi pelajaran penting bagi umat Islam bahwa setiap manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa. Oleh karena itu, bulan Muharram hendaknya dijadikan sebagai momentum introspeksi diri, memperbanyak istighfar, memperbaiki ibadah, serta meningkatkan amal saleh sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.
Beliau juga mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan kemuliaan bulan Muharram dengan memperbanyak puasa sunnah, sedekah, dzikir, dan amal-amal kebajikan lainnya. Dengan demikian, diharapkan setiap muslim dapat memulai tahun baru Hijriyah dengan semangat hijrah menuju pribadi yang lebih baik, lebih taat, dan lebih dekat kepada Allah SWT.
Kegiatan rutin Jam’iyah Hujjaj Ziyadatul Khoir ini ditutup dengan ramah tamah dan kebersamaan antarjamaah. Suasana penuh keakraban tampak mewarnai pertemuan tersebut, mencerminkan kuatnya persaudaraan dan semangat kebersamaan dalam menjalankan syiar Islam di tengah masyarakat. Diharapkan kegiatan rutin seperti ini terus istiqamah dilaksanakan sebagai wadah memperkuat ukhuwah, memperdalam ilmu agama, dan menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT serta Rasulullah SAW.


Komentar