Advertisement Advertisement
Home » Antara Empal Gentong H. Abud dan Warung Mas Budi: Kisah Kuliner dan Hikmah Rezeki dalam Ziarah MWC NU Lebaksiu

Antara Empal Gentong H. Abud dan Warung Mas Budi: Kisah Kuliner dan Hikmah Rezeki dalam Ziarah MWC NU Lebaksiu

Lebaksiu, NU Lebaksiu Online -Perjalanan ziarah Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Lebaksiu ke wilayah Cirebon bukan sekadar agenda spiritual, tetapi juga menyimpan kisah menarik yang penuh canda, kebersamaan, dan hikmah kehidupan. Ziarah yang meliputi Babakan Ciwaringin, Makam Sunan Gunung Jati, hingga makam Pangeran Raja Muhammad di Mundu, Cirebon, ternyata diwarnai cerita unik tentang pilihan kuliner antara empal gentong legendaris dan sebuah warung sederhana di pinggir jalan.

Rombongan pengurus MWC NU Lebaksiu memulai perjalanan dari Lebaksiu pada pukul 16.00 WIB. Sejak awal keberangkatan, satu topik yang paling sering dibicarakan di dalam kendaraan adalah rencana menikmati Empal Gentong H. Abud, kuliner khas Cirebon yang sudah melegenda dan viral di kalangan para pengurus. Saking antusiasnya, beberapa pengurus sengaja tidak makan sore, bahkan ada yang hanya makan sekadarnya, demi menjaga selera agar bisa menikmati empal gentong dengan penuh kenikmatan.
Perjalanan berlangsung lancar hingga rombongan keluar dari Exit Tol Plumbon. Sesuai rencana awal, dari titik tersebut kendaraan seharusnya berbelok ke kanan menuju lokasi kuliner Empal Gentong H. Abud. Namun, tanpa banyak disadari, mobil yang ditumpangi rombongan justru berbelok ke kiri, langsung mengarah ke Babakan Ciwaringin untuk melaksanakan agenda ziarah kepada para masyayikh. Ziarah pun dilakukan dengan penuh khidmat, doa dan tahlil dipanjatkan sebagai bentuk tabarrukan dan penghormatan kepada para ulama.

Waktu terus berjalan, dan tanpa terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Di saat itulah kondisi perut para pengurus mulai “berontak”. Rencana kuliner empal gentong yang sejak sore diidamkan kian terasa menjauh, sementara rasa lapar sudah tak bisa lagi ditunda. Meski demikian, perjalanan tetap dilanjutkan menuju Pondok Pesantren KHAS Kempek, tempat rombongan akan mengikuti ijazah Alam Nashroh.

Di tengah perjalanan menuju KHAS Kempek, rombongan menemukan sebuah warung makan khas Lamongan yang cukup sederhana, dikenal dengan nama Warung Mas Budi. Warung tersebut menyediakan menu ayam goreng, bebek goreng, pete segar, serta aneka sambal yang menggugah selera. Tanpa banyak pertimbangan, rombongan akhirnya sepakat untuk singgah. Meski bukan empal gentong yang direncanakan sejak awal, hidangan yang tersaji terasa nikmat dan mampu mengembalikan tenaga setelah perjalanan panjang.

Suasana makan malam di Warung Mas Budi berlangsung penuh keakraban. Canda dan tawa mewarnai kebersamaan para pengurus, sekaligus menjadi pelepas lelah. Rencana besar menikmati empal gentong legendaris memang gagal terwujud, namun Allah menghadirkan pengganti yang tak kalah nikmat dan penuh rasa syukur.

Pola Tidur Berubah saat Ramadhan, Dokter Bagikan Tips Atur Jam Istirahat

Usai makan, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pondok Pesantren KHAS Kempek untuk mengikuti ijazah Alam Nashroh yang disampaikan oleh KH. Mustofa Aqiel. Dalam ijazah dan nasihat yang diberikan, terdapat pesan mendalam bahwa salah satu kunci datangnya rezeki adalah keyakinan bahwa rezeki telah ditentukan Allah, baik tempat maupun waktunya. Manusia boleh merencanakan, namun Allah-lah yang paling mengetahui kapan dan di mana rezeki itu diberikan.
Pesan tersebut seolah menjadi jawaban dari rangkaian peristiwa yang dialami sepanjang perjalanan. Rencana kuliner di Empal Gentong H. Abud memang tidak terwujud, tetapi Allah menggantinya dengan rezeki di tempat lain, yakni di Warung Mas Budi. Dari kejadian sederhana itu, para pengurus MWC NU Lebaksiu mendapatkan pelajaran bahwa rezeki tidak selalu hadir sesuai rencana manusia, namun selalu tepat menurut kehendak-Nya.

Setelah mengikuti ijazah, perjalanan dilanjutkan dengan ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati. Rombongan tiba dan melaksanakan ziarah hingga sekitar pukul 00.00 WIB atau tengah malam. Meski fisik mulai terasa lelah, semangat spiritual tetap terjaga dalam suasana khusyuk dan penuh doa.

Puncak perjalanan ziarah dilakukan dengan berkunjung ke makam Pangeran Raja Muhammad di Mundu, Cirebon. Ziarah di lokasi tersebut berlangsung hingga sekitar pukul 02.00 dini hari. Setelah seluruh rangkaian ziarah selesai, rombongan pun bersiap kembali ke Lebaksiu. Perjalanan pulang ditempuh dengan penuh rasa syukur dan kebersamaan, hingga akhirnya seluruh pengurus tiba di rumah masing-masing sekitar pukul 04.00 WIB menjelang waktu Subuh.

Kisah antara Empal Gentong H. Abud dan Warung Mas Budi pun menjadi cerita tak terlupakan dalam perjalanan ziarah tersebut. Sebuah kisah ringan, namun sarat makna, bahwa dalam setiap perjalanan khidmah, Allah selalu menyelipkan pelajaran hidup, bahkan melalui urusan perut dan pilihan tempat makan. Sebab pada akhirnya, rezeki, tempat, dan waktu, semuanya adalah kehendak Allah SWT.

Wujud Khidmah Kemanusiaan: Muslimat NU Lebaksiu Salurkan Donasi untuk Korban Tanah Bergerak di Desa Kajen

By djaf

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *