Lebaksiu – Aksi tawuran pelajar kembali mencoreng dunia pendidikan dan meresahkan masyarakat. Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat, 9 Januari 2026, bertepatan dengan waktu pelaksanaan Salat Jumat, di depan PT Laku Mas Durensawit, Desa Kesuben, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal. Kejadian ini memicu keprihatinan berbagai pihak, terutama tokoh agama dan masyarakat setempat.
Tawuran yang melibatkan sejumlah pelajar dari beberapa sekolah tersebut berlangsung di ruang publik dan menimbulkan kepanikan warga sekitar. Selain mengganggu arus lalu lintas, aksi saling serang antar pelajar ini juga sangat berbahaya karena berpotensi mengancam keselamatan jiwa, baik pelaku maupun masyarakat yang melintas di lokasi kejadian. Terlebih, peristiwa ini terjadi di waktu sakral umat Islam tengah menunaikan ibadah Salat Jumat, sehingga menambah keprihatinan mendalam.
Menanggapi kejadian tersebut, Rois Syuriah MWC NU Lebaksiu, KH. Bahroni, menyampaikan keprihatinan serius terhadap kondisi generasi muda saat ini. Menurutnya, tawuran pelajar bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga mencerminkan krisis moral, lemahnya kontrol sosial, serta kurang optimalnya pendidikan karakter.
“Ini sangat memprihatinkan. Mereka adalah generasi penerus bangsa yang seharusnya berada di sekolah untuk menuntut ilmu, membangun masa depan, dan mengejar cita-cita. Namun justru terlibat perbuatan onar yang meresahkan masyarakat dan membahayakan nyawa,” ujar KH. Bahroni.
KH. Bahroni menegaskan bahwa tindakan tawuran tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga mencoreng nama baik sekolah, keluarga, serta lingkungan tempat para pelajar tersebut berasal. Ia menilai, apabila kondisi ini dibiarkan, maka akan berdampak buruk bagi masa depan generasi muda dan ketertiban sosial di masyarakat.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh unsur terkait untuk bersama-sama mengambil peran aktif dalam mencegah dan menanggulangi tawuran pelajar. Menurutnya, penanganan masalah ini tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi dan kerja bersama.
“Saya berharap semua unsur terlibat, mulai dari pihak sekolah, orang tua, aparat kepolisian, tokoh agama, hingga masyarakat. Semua harus ikut menertibkan, membina, dan memberikan edukasi kepada para pelajar tentang bahaya dan dampak tawuran,” tegasnya.
KH. Bahroni juga menekankan pentingnya pemberian efek jera bagi pelajar yang terlibat tawuran, tentu dengan tetap mengedepankan pendekatan edukatif dan pembinaan. Menurutnya, penegakan aturan yang tegas namun mendidik diperlukan agar para pelajar menyadari kesalahan dan tidak mengulangi perbuatannya di kemudian hari.
Di sisi lain, masyarakat sekitar berharap aparat kepolisian meningkatkan patroli dan pengawasan, khususnya pada jam-jam rawan dan lokasi yang kerap dijadikan titik kumpul pelajar. Warga juga mengimbau agar sekolah lebih memperketat pengawasan terhadap siswanya, baik di lingkungan sekolah maupun di luar jam belajar.
Peristiwa tawuran ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bersama bagi semua pihak. Pendidikan tidak hanya soal akademik, tetapi juga pembentukan karakter, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Dengan sinergi yang kuat antara sekolah, keluarga, aparat, dan masyarakat, diharapkan kejadian serupa tidak kembali terulang dan generasi muda Lebaksiu dapat tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, dan berkontribusi positif bagi bangsa.
by djaf

Comment