Advertisement Advertisement
Home » Menjelang Satu Abad Nahdlatul Ulama, MWC NU Lebaksiu Menapaki Sejarah Panjang Kepemimpinan

Menjelang Satu Abad Nahdlatul Ulama, MWC NU Lebaksiu Menapaki Sejarah Panjang Kepemimpinan

Lebaksiu, Kabupaten Tegal — Menjelang peringatan satu abad Nahdlatul Ulama (NU), Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Lebaksiu menorehkan catatan sejarah panjang perjalanan organisasi yang penuh dinamika, dedikasi, dan khidmah para ulama serta tokoh masyarakat. Sejak awal berdirinya hingga kini, MWC NU Lebaksiu terus berperan sebagai pilar keagamaan, sosial, dan kemasyarakatan di wilayah Lebaksiu dan sekitarnya.

Sejarah kepemimpinan MWC NU Lebaksiu menunjukkan kesinambungan perjuangan ulama dari generasi ke generasi. Para rais syuriyah dan ketua tanfidziyah yang pernah mengemban amanah telah memberikan kontribusi besar dalam menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, memperkuat kelembagaan NU, serta menjawab tantangan zaman di tengah masyarakat.

Jejak Kepemimpinan Rais Syuriyah

Dalam struktur NU, Rais Syuriyah memiliki peran sentral sebagai pemegang otoritas keagamaan. Sejak periode awal, kepemimpinan Rais Syuriyah MWC NU Lebaksiu telah diamanahkan kepada para kiai kharismatik dan alim.

Tercatat, KH. Umar Muchsin memimpin sebagai Rais Syuriyah pada periode 1992–1977, kemudian dilanjutkan oleh KH. Utsman Zahid pada periode 1977–1982. Kepemimpinan berikutnya dipegang oleh KH. Masykur Umar selama periode 1982–1992, yang dikenal aktif dalam penguatan dakwah dan pendidikan keagamaan.

Selanjutnya, tongkat estafet Rais Syuriyah diamanahkan kepada KH. Aenurrofiq pada periode 1992–1997, sebelum kemudian dijabat oleh KH. Machfudz Bashori dalam masa yang cukup panjang, yakni 1997–2016. Di bawah kepemimpinannya, MWC NU Lebaksiu mengalami penguatan konsolidasi organisasi dan perluasan peran sosial kemasyarakatan.

tata caa penu;isan nomr surat

Memasuki periode 2016–2026, jabatan Rais Syuriyah diemban oleh KH. Bahroni, yang hingga kini masih aktif membimbing arah keagamaan dan kebijakan strategis MWC NU Lebaksiu, terutama dalam menghadapi tantangan era modern dan digital.

Dinamika Kepemimpinan Ketua Tanfidziyah

Seiring dengan Rais Syuriyah, Ketua Tanfidziyah memegang peran penting dalam menjalankan roda organisasi secara operasional. Sejarah mencatat, KH. Utsman Zahid menjadi Ketua Tanfidziyah pada periode 1992–1977, dilanjutkan oleh KH. Khudori pada periode 1977–1982.

Pada periode 1982–1987, jabatan Ketua Tanfidziyah diemban oleh KH. Ahmad Husni, kemudian diteruskan oleh KH. Syarifudin pada periode 1987–1992. Selanjutnya, kepemimpinan berada di tangan KH. Fahruri Ali Ghozi selama periode 1992–1997, yang dikenal aktif menggerakkan jam’iyah hingga tingkat ranting.

Periode 1997–2007 dipimpin oleh KH. Munaseh, lalu dilanjutkan oleh KH. Faizin pada periode 2007–2016. Setelah itu, KH. Badrudin menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah pada periode 2016–2021, sebelum akhirnya tongkat estafet kepemimpinan diberikan kepada K. Syaiful Amal untuk periode 2021–2026.

Pola Tidur Berubah saat Ramadhan, Dokter Bagikan Tips Atur Jam Istirahat

Menjelang Akhir Masa Khidmah Periode 2021–2026

Saat ini, kepengurusan MWC NU Lebaksiu periode 2021–2026 tengah memasuki fase akhir masa khidmah. Di bawah kepemimpinan K. Syaiful Amal sebagai Ketua Tanfidziyah dan KH. Bahroni sebagai Rais Syuriyah, MWC NU Lebaksiu terus berupaya memperkuat peran organisasi dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial, serta pemberdayaan umat.

Menjelang berakhirnya masa kepengurusan ini, berbagai evaluasi dan refleksi dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab organisasi sekaligus persiapan regenerasi kepemimpinan. Hal ini menjadi momentum penting untuk memastikan keberlanjutan perjuangan NU di tingkat kecamatan, sejalan dengan semangat satu abad NU: merawat jagat, membangun peradaban.

Menyongsong Abad Kedua NU

Dengan sejarah panjang kepemimpinan yang telah dilalui, MWC NU Lebaksiu diharapkan mampu terus menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai keislaman yang moderat, toleran, dan rahmatan lil ‘alamin. Menjelang satu abad Nahdlatul Ulama, MWC NU Lebaksiu tidak hanya mengenang jasa para pendahulu, tetapi juga menyiapkan langkah strategis untuk menghadapi tantangan abad kedua NU dengan semangat khidmah dan persatuan.

Narasumber: KH. Akhmad Hanafi Rahmat

Wujud Khidmah Kemanusiaan: Muslimat NU Lebaksiu Salurkan Donasi untuk Korban Tanah Bergerak di Desa Kajen

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *