Kabupaten Tegal – Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) tahun 2026 untuk siswa SMP dan SMA menuai perhatian serius. Rata-rata nilai yang diperoleh siswa, khususnya pada aspek literasi dan numerasi, dinilai masih sangat rendah dan jauh dari standar yang diharapkan.
Berdasarkan data yang beredar, nilai rata-rata Matematika hanya mencapai 36,10, Bahasa Inggris 24,93, dan Bahasa Indonesia 55,38 dari total 30 soal. Kondisi ini memunculkan keprihatinan berbagai pihak, termasuk kalangan legislatif.
Anggota DPRD Kabupaten Tegal, A. Ja’far, menilai rendahnya capaian tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada siswa. Ia menegaskan bahwa perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan, termasuk proses pembelajaran dan penyelenggaraan ujian.
“Ini bukan semata-mata soal kemampuan siswa. Kita harus jujur melihat bahwa ada persoalan dalam sistem, mulai dari metode pembelajaran, kesiapan guru, hingga teknis pelaksanaan ujian,” ujarnya.
Menurutnya, kelemahan pada bidang numerasi menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran Matematika perlu diperbaiki agar lebih kontekstual dan mudah dipahami siswa. Sementara itu, rendahnya nilai Bahasa Inggris menandakan perlunya penguatan kurikulum berbasis komunikasi aktif, bukan sekadar teori.
Lebih lanjut, A. Ja’far juga menyoroti aspek teknis penyelenggaraan TKA yang dinilai belum optimal. Ia menyebutkan bahwa kesiapan perangkat, peran operator, teknisi, hingga pengawas ujian harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
“Kalau penyelenggaraannya tidak maksimal, tentu hasilnya tidak bisa mencerminkan kemampuan riil siswa. Ini harus menjadi bahan evaluasi bersama,” tegasnya.
Sebagai langkah perbaikan, DPRD mendorong pemerintah daerah melalui dinas pendidikan untuk segera melakukan:
- Peningkatan kualitas guru melalui pelatihan berkelanjutan
- Penguatan literasi dan numerasi sejak jenjang dasar
- Perbaikan sistem evaluasi berbasis kompetensi
- Pembenahan sarana dan prasarana pendidikan
- Monitoring ketat dalam pelaksanaan ujian
A. Ja’far berharap hasil TKA ini tidak hanya menjadi angka statistik semata, tetapi menjadi momentum untuk melakukan reformasi pendidikan di Kabupaten Tegal.
“Kita ingin pendidikan di Tegal benar-benar berkualitas. Anak-anak kita harus mampu bersaing, bukan hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional bahkan global,” pungkasnya.

Komentar