Lebaksiu – Dalam upaya menghidupkan tradisi keilmuan pesantren dan memperkuat sinergi antarulama di lingkungan Nahdlatul Ulama, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) dan Lajnah Bahtsul Masail (LBM) MWC NU Lebaksiu berkolaborasi menyelenggarakan Program Syawir Kitab Fathul Qorib yang akan dilaksanakan secara rutin setiap Ahad Legi.
Kesepakatan penyelenggaraan program tersebut dihasilkan dalam rapat koordinasi antara pengurus RMI, LBM, dan MWC NU Lebaksiu yang dilaksanakan pada Senin, 13 Juli 2026, pukul 15.30 WIB, bertempat di Gedung MWC NU Lebaksiu. Rapat membahas konsep pelaksanaan, peserta, materi kajian, serta penentuan lokasi kegiatan yang akan dilaksanakan secara bergilir.
Program Syawir ini akan melibatkan pengurus pondok pesantren, Rois Syuriah PRNU, serta pengurus LBM PRNU se-Kecamatan Lebaksiu. Kitab yang akan menjadi fokus kajian adalah Fathul Qorib, salah satu kitab fikih dasar yang menjadi rujukan utama di banyak pondok pesantren. Melalui forum ini diharapkan lahir kesamaan pemahaman dalam pengkajian fikih sekaligus memperkuat tradisi musyawarah ilmiah di kalangan ulama dan pesantren.
Ketua LBM MWC NU Lebaksiu, Ust. Ro’sun Nidhom, menyampaikan bahwa Syawir Kitab Fathul Qorib bukan sekadar forum mengaji, tetapi juga menjadi wadah diskusi ilmiah dan musyawarah dalam menjawab berbagai persoalan keagamaan berdasarkan rujukan kitab-kitab mu’tabarah.
Sementara itu, Ketua RMI MWC NU Lebaksiu, KH. Abdul Muqsith, menegaskan bahwa pondok pesantren memiliki peran strategis dalam menjaga tradisi keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Oleh karena itu, sinergi antara RMI dan LBM diharapkan mampu memperkuat jaringan pesantren sekaligus meningkatkan kualitas kader ulama dan pengurus NU di tingkat kecamatan maupun ranting.
Sesuai hasil rapat, pelaksanaan perdana Program Syawir Kitab Fathul Qorib dijadwalkan pada Ahad Legi, 2 Agustus 2026. Kegiatan perdana direncanakan berlangsung di salah satu pondok pesantren yang berada di wilayah Babakan, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal. Selanjutnya, kegiatan akan dilaksanakan secara bergilir di pondok-pondok pesantren se-Kecamatan Lebaksiu maupun di lingkungan PRNU.
Dengan sistem bergilir, diharapkan seluruh pesantren dan ranting NU dapat berpartisipasi aktif sebagai tuan rumah sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah, memperluas silaturahmi, dan memperkuat koordinasi antarpengurus pesantren, Syuriah PRNU, serta LBM PRNU.
MWC NU Lebaksiu memberikan apresiasi atas lahirnya program kolaboratif ini sebagai bagian dari penguatan khidmah organisasi di bidang keagamaan dan pendidikan. Program Syawir diharapkan menjadi agenda rutin yang mampu melestarikan tradisi kajian kitab kuning, memperkuat budaya bahtsul masail, serta mencetak kader-kader ulama yang memiliki kedalaman ilmu dan siap memberikan bimbingan keagamaan kepada masyarakat sesuai manhaj Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.


Komentar