Sharing Trap (Jebakan Curhat)
Curhat di era sekarang bukan lagi sekadar aktivitas yang bersifat rahasia. Curhat telah menjadi ajang untuk membentuk opini publik demi meraih dukungan atau menerima umpan balik yang sesuai dengan apa yang diutarakan. Umumnya, curhat dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk membahas sesuatu yang penting, dengan harapan masalah tersebut dapat terurai dan beban yang ada berkurang. Curhat bukan hanya telah menjadi budaya, melainkan sudah bergeser menjadi gaya hidup, bahkan ada yang menjadikannya sebagai kebutuhan. Sebagai warisan sosial, curhat merupakan pengejawantahan dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang saling terikat satu sama lain.
Curhat sebagai gaya hidup bukan rahasia lagi. Banyak orang gemar berbagi cerita, baik lewat tulisan, percakapan langsung, maupun yang paling ramai di masa sekarang: curhat monolog. Fenomena ini berupa rekaman video atau audio saat seseorang berbicara sendiri mengenai suatu hal, kemudian membagikannya kepada warganet sehingga mereka ikut terlibat dalam komunikasi secara tidak langsung. Curhat lewat tulisan pada dasarnya juga merupakan upaya mengeluarkan sesuatu yang mengganjal di dalam hati dan pikiran, lalu menuangkannya dalam bentuk kata, kalimat, dan paragraf, yang kemudian dikanvaskan di buku harian atau beranda media sosial.
Selanjutnya, ada curhat konvensional yang berbentuk percakapan dua arah maupun satu arah. Searah berarti salah satu pihak menjadi pendengar aktif; dia tidak ikut menceritakan permasalahan pribadinya, melainkan hanya mendengarkan sambil sesekali memberikan tanggapan sebagai bentuk simpati dan empati. Mungkin curhat lewat percakapan langsung inilah yang masih menjadi budaya dan belum bisa ditinggalkan.
Lalu, apa manfaat curhat, dan bagaimana efek yang ditimbulkan bila curhat tersebut ternyata menjadi bumerang bagi diri sendiri? (Sebagai penafian, pendapat saya ini tidak mutlak benar).
Secara garis besar, manfaat curhat adalah mengurangi beban permasalahan, meredakan ketegangan emosi, dan yang paling utama adalah mencari solusi. Tabiat manusia ketika menghadapi masalah memang membuat jiwa menjadi tidak tenang, pikiran karut-marut, dan emosi naik-turun. Jika dibiarkan, kondisi ini akan memicu stres dan bisa berakibat fatal, mulai dari tindakan melanggar hukum hingga bunuh diri (suicide). Di sinilah peran curhat untuk menetralisasi keadaan agar permasalahan terurai, emosi stabil, dan solusi yang relevan dapat ditemukan.
Namun, jebakan curhat seolah menjadi sisi mata uang yang tak terpisahkan dari manfaatnya. Hal ini tidak bisa terelakkan, bukan karena aktivitas curhatnya yang salah, melainkan karena adanya ruang dan waktu yang senantiasa dinamis, yang memungkinkan curhat tersebut berbalik menjadi senjata yang melukai si pelaku curhat.
Pertama, dari sisi orang yang curhat. Kita tidak tahu pasti motif di baliknya—apakah murni karena masalah itu nyata, atau sekadar “jualan” agar orang yang diajak bicara bersimpati dan mendukungnya. Kedua, materi curhat bisa saja berupa kebohongan yang menyudutkan orang lain. Pembangunan opini yang tidak benar ini dapat mendiskreditkan serta membunuh karakter orang lain yang sebenarnya tidak tahu-menahu. Materi curhat pada dasarnya kompleks dan semua orang bisa mengalami hal yang sama. Namun, jika materi itu hanya menguntungkan salah satu pihak, jelas hal tersebut tidak berimbang. Perlu adanya filter, keterbukaan, serta pemikiran yang dewasa agar orang yang dicurhati tidak masuk ke dalam perangkap atau mengikuti ego si pencurhat.
Kemudian dari sisi pendengar atau orang yang diajak curhat. Sering kali orang lain tidak mengetahui karakter aslinya dan hanya mendengar opini sepotong (parsial). Ketika cerita tersebut diumbar ke pihak lain, maknanya kerap dibingkai (framing) sesuai dengan kepentingan tertentu. Dalam posisi ini, beban emosional mungkin berkurang untuk sementara waktu. Namun, di waktu lain, bom waktu bisa meledak dan percikannya dapat mengenai siapa saja, terutama orang yang curhat tersebut.
Kini, curhat sudah seperti industri karena didukung oleh karakter masyarakat Indonesia yang gemar bersosialisasi dan penasaran (kepo), serta ditopang oleh teknologi yang mampu menyiarkannya tanpa batasan waktu. Setiap saat, dalam keadaan apa pun, ketika kita membuka kanal dan aplikasi media sosial, selalu ada konten curhat yang dikemas beraneka rupa. Ada yang berbentuk podcast, rumpi, obrolan siaran langsung (streaming), hingga tayangan perdana yang disesuaikan dengan kebutuhan peminatnya. Curhat telah menjadi ruang terbuka yang dapat diakses oleh siapa saja dan kapan saja secara mudah, murah, dan tanpa batas tayang.
Bahkan dalam ranah agama, curhat menjadi metode dakwah tersendiri yang ditayangkan secara langsung melalui televisi nasional pada jam tayang utama (prime time). Bahkan, kajian-kajian keagamaan pun banyak yang terlahir dan terinisiasi dari pelbagai curhatan yang dihimpun guna ditemukan solusi serta landasan hukumnya.
Jebakan curhat telah menjerat kita, seolah hal tersebut merupakan kewajaran dan hak setiap orang. Padahal, efeknya sering kali tidak membawa dampak positif, melainkan justru menimbulkan kubu-kubuan yang terus berseteru tanpa ujung.
Sebagai manusia, kita memang membutuhkan orang lain sebagai bentuk fitrah sekaligus sarana untuk mencapai derajat khalifah yang diidealkan. Namun perlu digarisbawahi, tidak semua hal harus dibagikan kepada orang lain. Ada prinsip dan rahasia yang harus tetap dijaga. Jangan sampai Allah SWT telah menutup aib kita lahir dan batin, tetapi justru kita sendiri yang membukanya demi keuntungan duniawi yang sesaat.
Waspadalah pada jebakan curhat demi menjaga keharmonisan diri dan orang lain.
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ ١١
(Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia). — QS. Ar-Ra’d: 11
Wallahu A’lam bish-shawabi
Aris Budayawan

Komentar