Advertisement
Home » Perubahan Era dari VUCA Menuju BANI

Perubahan Era dari VUCA Menuju BANI

Ketika masih era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), aturan lama masih bisa dipegang dan dapat menjadi pedoman, meskipun sifatnya tidak menentu alias tidak pasti. Seseorang bisa saja mengambil nilai lama yang mungkin masih relevan untuk diterapkan, akan tetapi pemaknaannya bisa sangat kondisional, lebih kompleks, tidak menentu, dan yang paling susah adalah ambigu. Artinya, kepala dan ekor tidak jelas jenisnya apa, bentuknya apa. Semuanya terlihat samar dan susah untuk didefinisikan secara jelas.

​Era VUCA adalah puncak kegamangan peradaban manusia. Dibilang toleran nyatanya intoleran; disebut modern atau kontekstual nyatanya banyak yang primordial; dibilang ahli nyatanya naif; dibilang profesional nyatanya delusional; dibilang konstruksi nyatanya destruktif.

​Artinya, dimensi satu dengan dimensi lain tidak kongruen atau tidak selaras. Format satu dengan yang lain kadang saling bersinggungan, dan konteks satu dengan yang lain saling turbulensi (bertubrukan). Kita sebagai manusia sendiri tidak bisa menterminologikan diri sendiri, bahkan sekadar untuk bereksistensi pun tidak jelas makna dan tujuannya.

​Setelah huru-hura VUCA—dan nyatanya belum reda implikasinya hingga kini—manusia dihadapkan pada era baru yang lebih kejam dan bengis. Datangnya bukan hanya by given (keniscayaan), by system (tata aturan sebagai kesepakatan), atau by kausalitas (hukum sebab-akibat), namun datangnya juga by demand (permintaan). Era baru itu bernama BANI.

​Apa itu era BANI? Dan kenapa datangnya justru karena permintaan manusia itu sendiri? Untuk menjawab itu, kita perlu berhenti sejenak agar hati terbuka, dan tidak mendahulukan persepsi apa pun yang mungkin terlintas dalam benak dan pikiran.

Sharing Trap (Jebakan Curhat)

​Tentu yang dimaksud era BANI bukanlah tren saat ini, yakni ketika Lebaran masing-masing anak dan cucu berkumpul untuk mengadakan halalbihalal sebagai bentuk kohesivitas (kerukunan) keluarga, sekaligus media inventarisasi jumlah keluarga sebagai upaya melanggengkan silaturahmi. Bukan itu pastinya.

​BANI sendiri merupakan sebuah akronim, yakni Brittle yang bisa dimaknai sebagai kerapuhan; kemudian Anxiety yang artinya kecemasan; selanjutnya Non-Linear yang artinya ketidaksesuaian; dan terakhir adalah Incomprehensible yang bisa dimaknai sebagai ketidakcakupan atau ketidakmengertian.

Brittle (Kerapuhan)

​Setelah masa ketidakjelasan—entah itu dimensi hukum, sosial, politik, budaya, dan agama—manusia menjadi hilang semangat dan menjurus pada kehilangan harapan. Karena kehilangan harapan, maka yang terjadi adalah stres yang berlarut-larut dan depresi pun melanda. Setelah depresi, semangat untuk hidup pun semakin memudar, tidak ada lagi fighting spirit untuk berjuang. Bahasanya, jangankan berangan-angan untuk mewujudkan mimpi atau berimajinasi untuk berbuat lebih baik, sekadar bertahan untuk melanjutkan hidup saja terasa berat. Begitu rapuhnya manusia sehingga segala sesuatu langsung dipasrahkan kepada Tuhan. Biar Dia yang mengurusnya.

Jalan Tengah Itu ” Pantas”

​Ibaratnya begini: ketika mau bersandar pada politik, hanya keculasan yang ada; ketika beralih ke hukum, hanya manipulasi yang ditemui; ketika beralih ke sosial, tidak ditemui lagi tenggang rasa; berkiblat pada agama, terjadi kemunafikan di mana-mana; bergeser ke pendidikan sebagai mercusuar peradaban, ternyata dikapitalisasi sedemikian rupa.

​Di tengah kerancuan yang semakin tidak jelas batas-batasnya tersebut, kesimpulan yang diambil adalah membuang semua tatanan lama yang disinyalir sebagai biang keroknya. Akhirnya, manusia mencoba hal yang baru sepenuhnya. Inilah yang disebut Era BANI. Tentunya, karena serbabararu, semua menjadi gampang pecah dan rapuh.

Anxiety (Kecemasan)

​Karena mengambil sistem dan tatanan baru yang implikasinya menjadi rapuh alias tidak stabil, maka dampak selanjutnya adalah kecemasan. Bagaimana tidak cemas, kita menafsirkan ulang hal baru tetapi tidak kukuh maknanya, tidak komprehensif sumbernya, dan tidak kredibel orangnya. Faktor-faktor tersebut sepertinya cukup untuk memicu kecemasan yang berlarut-larut.

Gen Z Dan Budaya Status Quo

​Jika manusia sudah cemas, maka ia tidak mampu lagi berbicara dengan lancar, apalagi kritis. Ia tidak bisa berdiri dengan tenang, dan yang paling utama, kecemasan melahirkan overthinking yang mengakibatkan ketidakberdayaan dalam mengambil keputusan. Ketika kecemasan melanda sebagian masyarakat, maka tinggal menunggu waktu terjadinya chaos (kekacauan). Artinya, satu sama lain saling menaruh kecurigaan, dan jika sudah demikian, maka ketenangan akan menguap dengan cepat.

​Inilah era BANI yang mungkin tidak bisa diperkirakan sebelumnya. Yang paling ironis nantinya adalah timbulnya penyesalan. Namun, semua yang terjadi adalah dampak tercepat dari sesuatu yang diinginkan pada era sebelumnya. Untuk kembali sudah tidak bisa lagi, untuk menata pun tidak kuat lagi. Semua digilas oleh monster yang diciptakan sendiri.

Non-Linear (Ketidaknyambungan)

​Sudah lemah bin rapuh, ditambah cemas bin lemas, maka bagaimana akan nyambung kalau diajak bicara? Komunikasi yang terjalin bukan lagi dua arah, melainkan melompat-lompat sesuai ingatan dan keinginan saja.

​Ketika membicarakan A, pembicaraan bisa tiba-tiba beralih ke B, C, D, dan seterusnya, sesuai dengan kondisi jiwa saja. Jangankan bicara yang runut, dalam, dan penuh kevalidan, bicara yang menyambung saja susah. Ini bukan tentang gelar, pendidikan, atau seperangkat keilmuan; ini hanyalah sebuah kondisi jiwa yang tidak pada tempatnya, kondisi batin yang kalut dan tidak menentu.

Incomprehensible (Ketidakpahaman)

​Lemah, cemas, kalut, dan tidak nyambung; bagaimana mungkin bisa menemukan titik temu untuk saling memahami? Jika informasi yang dibicarakan hanya parsial—sepotong, sekutip, sedetik-dua detik video, atau sebaris tulisan yang tidak jelas—kemudian langsung dijadikan dalih, maka bagaimana mungkin bisa mendapatkan pemahaman yang utuh dan komprehensif?

​Maka, ketika sudah masuk dalam Era BANI, pilihannya adalah beradaptasi secepat mungkin agar bisa selamat dan tidak terjerembab dalam kubangan keputusasaan.

​Tulisan ini tidak untuk menakuti, namun sekadar untuk membaca zaman agar kita lebih antisipatif dan lebih siap dalam menghadapinya. Karena jika musuh yang dihadapi dalam era ini jelas, maka tidak menutup kemungkinan kita akan memperoleh kemenangan. Jika tidak memperolehnya, minimal kita tidak mati konyol; artinya kita kalah setelah berjuang dan berusaha sekuat tenaga menghadapinya.

​رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

Wallahu a’lam bish-shawabi

​Aris Budayawan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *