Jalan Tengah itu “Pantas”
Moral Hazard atau penyimpangan moral itu terjadi ketika adanya tabrakan-tabrakan yang melampaui batas.Ukuran melampaui batas itu ditandai adanya “ketidakpantasan”.Dalam bahasa lain disebut Inkompetensi yakni tidak bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Ini kerap terjadi bisa berdasar pada kesadaran,berdasar kepentingan atau bisa terjadi karena ketidakjujuran dalam memberi sikap.Dan awal dari “ketidakpantasan”ini adalah salah dalam mempersepsikan, kekeliruan dalam menganalisis.
Sahabat Umar R.A. Berkata” Sebelum anda melakukan reaksi terhadap penilaian yang orang lain berikan,sudahkah anda memantaskan diri yang memungkinkan orang lain mengeliminasi penilaiannya?”.
Artinya tidak akan terjadi penilaian yang ala kadarnya,negatif bahkan cemoohan jika secara jiwa,pikiran,sikap itu sudah dianggap pantas dan relevan dengan ruang dan waktu yang ada.
Ataukah jangan-jangan Anda layak untuk dinilai negatif baik karena performa kerjanya atau ketidaklayakkan untuk memegang tanggung jawab tersebut?.
Semua itu kembali kepada Kesadaran
Dalam berinteraksi baik itu pikiran,ucapan,maupun perbuatan perlu mempertimbangkan kelayakkan dan kepantasannya agar harmoninya terwujudkan.
Kepantasannya itu sendiri ukurannya apa?
Ukuran kepantasan adalah tidak berlebihan,tidak ekstream kanan dan kiri,tidak terlalu sekuler juga tidak terperosok dalam jurang fundamental atau juga bisa dalam kerangka imparsialitas(ketidakberpihakkan) dengan mencari win-wim solution yang paling ideal.Karena, interaksi apapun bentukannya bukan hanya terdiri dari satu wajah,melainkan beraneka wajah dan rupa.
Dalam salah satu potongan ceramahnya Gus Baha memberikan istilah yang dimaksud Sholeh itu adalah “Pantas”.Garis besarnya adalah orang mukmin lebih lagi muslim itu harus memantaskan diri secara jasmani dan rohani/ material dan spiritualnya.Dalam jasmaniahnya tidak terlalu berlebihan baik Berat badannya atau pakaian yang dikenakannya.Tentu ada ukuran yang disepakati sebagai moral bersama.
Dalam spiritual atau kerohanian pun sama tidak berlebihan seakan -akan manusia suci yang tidak berdosa.Ajaran Islam pun menekankan kepantasan sebagai tajuk utamanya dalam terminologinya dikenal dengan istilah washatiyah.
Dalam semua profesi pun demikian,tidak adanya tuntutan untuk terus dalam mode sempurna,ideal dan tidak adanya kecacatan.Sebaliknya tidak juga dalam bentuk apa adanya,pokoknya pasrah,atau dalam hal ini tidak bisa memantaskan diri agar bisa dinilai sebagai pribadi yang proporsional.
Dua Kutub ini justru menjadi pilar utama kemunduran bahkan ketidakharmonisan dan berpotensi destruktif.
Orang mengejar kesempurnaan jelas tidak mungkin,pun dalam hal kepasrahan jelas tidak diperkenankan.Ini akan terjadi kontradiksi yang tidak ada ujung.
Kesepakatan moral yang disepakati sebagai kepantasan dalam masyarakat itu sebenarnya mudah untuk dilihat,diraba,dan dirasakan yakni “Tidak terlalu mencolok”.Kalau ada sesuatu yang mencolok maka,jangan salahkan yang menilai berarti anda telah melanggar batasan yang dikehendaki oleh masyarakat tertentu.
Apakah perlu untuk disikapi? Kembali ke Dawuh nya Sahabat Umar di atas!.
Biasakan diri menyadari setiap apa yang ada dalam pikiran,apa yang akan diucapkan,apa yang akan dilakukan,inilah dasar dari bagaimana kita melakukan scanning agar kita tidak terjebak dalam kesalahan bereaksi.
Akhirnya kita hidup dalam ruang yang tidak hampa,semua ada interaksinya,semua ada timbal baliknya,untuk menghindari diri dari persangkaan yang tidak pada tempatnya alangkah baiknya kita memantaskan diri.Bukan untuk menghindari dugaan/wahm/fitnah dan semacamnya karena itu pasti ada,tapi untuk memberi nilai pada diri bahwa kita tidak seperti apa yang mereka sangka dan duga.
Wallahu a’lam Bishawab
Aris Budayawan

Komentar